Jilbab Akan Senantiasa Memuliakanmu, Saudariku Muslimah

1235366_413642532074975_669502821_n

Maha Suci Allah yang tidak pernah keliru di dalam merencanakan segala sesuatu. Skenario yang diciptakannya sangat sempurna, tidak terdapat cacat sedikitpun. Setiap risalah yang Dia turunkan kepada umat manusia senantiasa selaras dengan fitrahnya sehingga sungguh tidak masuk akal ketika terdapat penentangan atau mosi tidak percaya yang ditujukan kepada kalam-Nya yang suci. Satu hal yang perlu diketahui bahwa semua aturan yang diciptakan oleh-Nya dilandasi oleh rasa yang merupakan perpaduan antara cinta, kasih sayang, kelembutan, dan perhatian-Nya. Perlakuan-Nya yang indah untuk hamba-hambaNya ini tidak terdikotomikan oleh hal apapun, pun dalam masalah jilbab. Sungguh luar biasa Allah, telah memberikan aturan yang apabila dicermati, maka aturan tersebut justru akan semakin meningkatkan derajat wanita. Aturan itu adalah bagaimana wanita harus menutupi auratnya.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu.” – (Al-Ahzab: 59)

Penggalan ayat di atas merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah untuk kaum Hawa. Paras yang rupawan dan penampilan yang dapat menimbulkan ketertarikan merupakan sunnatullahyang terdapat di dalam diri kaum wanita. Keindahan yang Allah berikan secara khusus kepada wanita ini dapat menimbulkan fitnah dan bencana apabila diletakkan di tempat yang salah. Di zaman Jahiliyyah dahulu, banyak sekali wanita yang dilecehkan bak binatang. Hal tersebut terjadi karena wanita yang tidak pandai menjaga auratnya dengan baik. Perintah berjilbab justru bentuk perhatian Allah pada kaum Hawa agar kaum Hawa terhindar dari pelecehan dan perlakuan kurang senonoh.

Di zaman kekhalifahan Abbasiyah, Khalifah al-Mu’tashim menunjukkan pada dunia saat itu bahwa betapa Islam sangat meninggikan kedudukan seorang wanita. Izzah yang ditunjukkan oleh al-Mu’tashim saat itu sangat terasa, bahkan membuat pihak kawan dan lawan segan terhadapnya. Dikisahkan ada seorang wanita yang roknya sengaja dikaitkan pada paku oleh seorang Romawi sehingga membuat aurat wanita tersebut tersingkap saat ia hendak beranjak berdiri. Wanita tersebut tidak menerima perlakuan seperti itu kemudian ia melaporkan hal tersebut kepada khalifah. Mendengar wanita tersebut dilecehkan seperti itu, khalifah dengan segera mengumpulkan pasukan untuk menyerang Romawi. Hal yang membuat siapapun gemetar kala itu adalah pasukan yang al-Mu’tashim kirim sangat banyak jumlahnya, bahkan tidak terputus sejak pintu luar istana hingga masuk daerah kekuasaan Romawi. Semua itu dilakukan oleh al-Mu’tashim hanya karena ia tidak ingin melihat kemuliaan wanita yang seharusnya terselimuti jilbab itu terampas secara hina. Subhanallah.

Kecantikan fisik pada wanita merupakan sebuah harta yang sangat berharga karena Allah sendiri yang mengistilahkan bahwa aurat wanita adalah perhiasan. Perhiasan wanita ini akan sangat tinggi nilainya manakala keotentikan serta keindahannya tetap dijaga dan dilindungi. Semakin baik seorang wanita menjaga perhiasannya, semakin mulia pula kedudukan seorang wanita. Kecantikan ini juga merupakan salah satu nikmat dan anugerah yang diberikan Allah untuk kaum wanita. Oleh karena itu, salah satu bentuk syukur atas nikmat ini adalah dengan cara menjaga perhiasan itu dengan baik. Proses menjaganya pun tidak hanya sekedar menjaga, namun dengan cara yang disukai Allah. Allah berfirman,

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” – (An-Nur: 31)

Ayat tersebut menekankan 2 hal tentang jilbab :

  1. Larangan untuk menampakkan perhiasan (aurat) kecuali yang boleh tampak
  2. Perintah untuk menjulurkan jilbab hingga ke dada

Rasulullah menegaskan batasan bagian tubuh wanita yang boleh tampak di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha,

“Dari Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini (sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan)” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Dengan tertutupnya aurat dengan jilbab, wanita tidak akan  terjerumus menjadi media bagi setan untuk menggoda dan melecehkan akhlaq manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Pakaian yang sesuai dengan anjuran Allah akan melindungi pemakainya dari godaan setan dimanapun ia berada. Bagi wanita yang memakai jilbab, pada umumnya dapat merasakan adanya semacam pengingat diri untuk tidak melakukan hal-hal yang terlarang dan dicela oleh syara. Dengan kata lain, jilbab dapat dikategorikan sebagai pengontrol perilaku wanita guna menyelamatkan kehormatan dirinya dari berbagai macam godaan setan.

Hal terakhir yang menjadi buah manis dari pengenaan jilbab sadar ataupun tidak adalah bertambahnya level kecantikan. Tidak hanya terlihat cantik di mata manusia, namun terlihat elok juga di mata Allah. Tiada kebahagiaan yang paling indah dirasa selain terlihat mulia di mata Allah hingga Allah secara pribadi mengeluarkan pujian indah-Nya. Kedudukan yang tinggi di mata Allah akan menjadikan kedudukan di mata manusia menjadi tidak berarti sama sekali. Oleh karena itu, sungguh beruntung bagi wanita yang mendapatkan lirikan khusus dari Allah karena kerendahan hatinya untuk tunduk patuh pada anjuran yang telah Allah tawarkan dalam mengenakan jilbab.

Berbahagialah bagi wanita yang telah rapi dalam mengenakan jilbabnya. Ketenangan hati, perlindungan khusus dari Allah, kemuliaan di mata manusia dan di mata-Nya, nikmat yang melimpah, jiwa yang bersih, petunjuk dan hidayah-Nya yang mahal, dan syurga-Nya yang indah insya Allah akan ia dapatkan manakala wanita mengindahkan anjuran yang Allah tawarkan ini.

Semoga Allah senantiasa merahmati dan memuliakan kedudukan wanita yang senantiasa menjaga dirinya dengan menutupi tubuhnya dengan jilbab yang dianjurkan-Nya.

Wallahu’alam bisshawab

REMAJA ISLAM ITU ???

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami Ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya.Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami Tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. al-Kahfi [18]: 13)

Hadirnya pemuda dalam pergaulan sosial merupakan sebuah sumbangan berharga. Di mana pemuda menjadi ‘harapan umat’ untuk melakukan gerakan yang edukatif dan transformatif. Gerakan edukatif, maknanya adalah perilaku yang mencerminkan pribadi pemuda sebagai sosok yang intelek alias berilmu pengetahuan yang luas dan dalam. Dengan modal tersebut, pemuda (diharapkan) dapat menempa dan mendidik umat kepada jalan kebaikan. Selanjutnya adalah gerakan transformatif, yaitu memberikan pencerahan umat, menuju jalan kebenaran.

Menjadi pemuda yang ideal, sebagaimana yang tergambarkan di atas, memang bukan perkara yang mudah. Dalam rangka mencapainya, dibutuhkan proses yang panjang. Proses tersebut merupakan ‘eskalator’ menuju idealisme pemuda, dalam menyikapi realitas kehidupan dan menyongsong masa depan. Karenanya, dibutuhkan kebulatan tekad, akumulasi semangat, dan kerja keras, bukan sekadar ‘mimpi belaka yang nihil aksi’. Ketika pemuda telah berniat untuk menjadi sosok impian maka pada saat yang sama ia harus berikrar untuk terus berproses dalam rangka memperbaiki diri (khairan min amsihi).adirnya pemuda dalam pergaulan sosial merupakan sebuah sumbangan berharga. Di mana pemuda menjadi ‘harapan umat’ untuk melakukan gerakan yang edukatif dan transformatif. Gerakan edukatif, maknanya adalah perilaku yang mencerminkan pribadi pemuda sebagai sosok yang intelek alias berilmu pengetahuan yang luas dan dalam. Dengan modal tersebut, pemuda (diharapkan) dapat menempa dan mendidik umat kepada jalan kebaikan. Selanjutnya adalah gerakan transformatif, yaitu memberikan pencerahan umat, menuju jalan kebenaran.

Pemuda, selain sebagai pilihan, juga sebuah kenyataan yang tidak akan pernah terhindarkan. Hal itu karena masa muda adalah muara dari “ke-balita-an” yang sudah (pernah) dilalui oleh seseorang. Urutannya, manusia lahir ke dunia sebagai ‘bayi’ pasti akan menemui takdirnya; tumbuh dan terus berkembang menjadi seorang pemuda. Sebagai sebuah pilihan, seorang pemuda haruslah menyiapkan dirinya untuk menjadi ‘abdi umat’. Di mana ia terus berjuang untuk menjadi ‘pelita’ di tengah kegelapan semesta. Tugasnya, tiada lain adalah mengeluarkan makhluk-makhluk yang berada dalam kegelapan tersebut menuju hamparan sahara yang terang.

Sebagai sebuah kenyataan, menjadi seorang pemuda merupakan anugerah terindah yang harus menjadi tambatan untuk senantiasa bersyukur. Tidak semua hamba Allah dapat merasakan manis-pahitnya masa muda dengan segala romantikanya. Pasalnya, banyak sahabat kita yang harus lebih dahulu menghadap ke haribaan-Nya sebelum ‘mengenyam pendidikan’ di masa muda. Sekali lagi, kesempatan untuk hidup di masa muda merupakan karunia yang, sungguh, luar biasa. Tentu, rasa syukur tidaklah cukup hanya terucap di lisan. Ia butuh ‘aplikasi’ dalam kehidupan nyata.

Pemuda adalah sosok yang (selaiknya) sangat teguh memegang idealisme. Dalam menjalani hidupnya selalu berpegang kepada sebuah prinsip; menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan. Idealisme tersebut, diharapkan tidak akan tergadai ketika ‘bertatap’ dengan uang alias materi. Sampai kapanpun, termasuk ketika ia nanti sudah tidak menjadi pemuda lagi. Di sinilah letak pentingnya mempertahankan idealisme. Dengan begitu, maka idealisme, yang sudah melekat dalam jiwa, akan terus terbawa sampai nyawa meninggalkan raga.

Setidaknya ada 2 kriteria untuk menjadi pemuda yang ideal, menurut syariat Islam. Pertama, seorang pemuda haruslah memegang prinsip untuk menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar. Lebih tepatnya, pemuda harus rajin beribadah kepada Allah Swt. Kedua, pemuda harus juga gemar dalam beramal. Beramal di sini lebih cenderung dimaknai sebagai ikhtiar atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dua hal tersebut, mari kita kaji lebih mendalam.

Membiasakan Beribadah

Dalam sebuah hadits yang masyhur Rasulullah Muhammad Saw. pernah mengingatkan. Apa yang beliau ingatkan ketika itu? Bahwa ada 7 golongan manusia yang akan mendapat perlindungan Allah di saat tidak ada perlindungan kecuali dari-Nya. Salah satu diantaranya, -urutan kedua-, adalah pemuda yang tumbuh dan berkembang dengan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Dalam bahasa hadits dikatakan, ‘syâbbun nasya-a fî ‘ibâdatillâh’. Sungguh luar biasa pemuda tersebut. Masa muda, sebagai periode emasnya, ia gunakan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah.

Pertanyaannya, sudahkah saat ini kita menjadi sosok pemuda yang rajin beribadah? Apakah keseharian kita sudah disibukkan untuk shalat sunnah dan membaca al-Quran, misalnya? Kalau belum, tidakkah kita berkeinginan untuk mendapatkan naungan Allah di hari akhir nanti? Hal ini tentu menjadi ‘muhasabah’ bersama untuk menyadarkan betapa pentingnya membiasakan diri untuk banyak beribadah sejak masa muda. Tentu kita ingat, betapa banyak pemuda yang enggan memperbanyak ibadah dengan alasan yang, sebenarnya, hanyalah sebuah apologis. “Saya menunggu hari tua datang untuk banyak beribadah.” Demikian, sering kali kita dapatkan komentar para pemuda ketika ditanya, mengapa saat ini malas untuk beribadah. Padahal, tidak jaminan untuk tetap hidup sampai masa tua!

Lalu apa pentingnya ibadah di masa muda? Pertama, sebagai pemuda, tentu gelora untuk melakukan sesuatu masih menggebu-nggebu. Menjadi sangat tepat jika ghîrahyang luar biasa itu digunakan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Selain sebagai rasa syukur juga untuk membentengi diri dari pengaruh kehidupan yang sering kali menjerumuskan. Jika sudah demikian maka masa muda menjadi momen yang sarat makna dalam sejarah kehidupan.

Kedua, seseorang itu hidup berdasarkan kebiasaannya. Bahkan, dalam sebuah ceramah, KH. Mustofa Bisri, mengingatkan, “mâta al-‘abdu ‘ala mâ ‘âsya.” Seseorang itu meninggal (wafat) berdasarkan kebiasaannya. Jika seseorang terbiasa beribadah maka, insya Allah, ia akan menemui ajalnya dengan kondisi yang sama. Nah, untuk menyongsong hari-hari tua yang pasti menyapa, pemuda harus mempersiapkan diri sebagai seorang yang gemar beribadah. Sehingga, masa tua menjadi ‘estafet’ untuk meneruskan ibadah di kala muda, sampai menemui Sang Pencipta. Bukankahkhusnul khâtimah, adalah dambaan semua hamba?

Konsep Ibadah

Berbicara masalah ibadah ada baiknya untuk memetakan ibadah itu sendiri.Pertama, ibadah yang berbentuk “personal-ritual”. Ibadah ini merupakan ibadahmahdhah yang sudah lazim dilaksanakan oleh setiap muslim. Mulai dari shalat 5 waktu (beserta sunnah rawatibnya), puasa Ramadhan (dan puasa sunnah), zakat (baik fitrah maupun mal), dan ibadah haji. Semuanya sudah diatur dalam syariat. Karenanya umat Islam tidak diperkenankan untuk melakukan ‘inovasi’ dalam hal ini. Tepatnya, lakukan saja sebagaimana adanya.

Kedua, adalah yang, -dalam bahasa penulis-, disebut sebagai ibadah “sosial-aktual”. Ibadah ini merupakan tanggung jawab sosial (social responsibility) seseorang.Tanggung jawab sosial ini sebagai konsekuensi syukur seorang hamba. Bentuknya adalah pengabdian sosial untuk memberikan manfaat kepada umat manusia dan alam semesta. Ibadah ini memang umum dan karenanya manusia diperbolehkan melakukan inovasi. Pasalnya, ibadah sosial haruslah aktual dan kontekstual. Sesuai dengan keadaan dan tepat guna. Sesuatu yang berguna bagi kelompok tertentu belum tentu berguna bagi kelompok yang lain. Disinilah letak urgensi dari aktualitas ibadah sosial.

Beramal, tidak Berpangku Tangan

Selain beribadah pemuda juga harus gemar beramal. Pernah suatu ketika Rasulullah mendapati seseorang yang berdiam diri (beribadah) di dalam masjid. Rasulullah pun bertanya kepadanya, siapa yang mencarikan nafkah baginya, sementara ia bermasyuk-ria beribadah di masjid. Orang tersebut menjawab bahwa yang menghidupinya adalah saudaranya. Maka Rasulullah pun seketika itu mengatakan bahwa saudaranya yang menafkahinya itu lebih mulia darinya, yang terus beribadah dalam masjid. Hal ini menunjukan bahwa ibadah (ukhrawi) dan bekerja (duniawi) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Manakala salah satunya terabaikan akan menyebabkan ketimpangan. Pada akhirnya menjadikan ketidakharmonisan hidup manusia.

Dalam konteks ini, pemuda dituntut bukan sekadar rajin beribadah, tetapi juga gemar beramal. Beramal atau bekerja adalah upaya ‘pemandirian’ diri agar tidak selalu bergantung kepada orang lain, termasuk orang tua. Dan bekerja juga merupakan media untuk melatih diri, karena pada akhirnya seorang pemuda juga akan menjadi ‘bapak dari anak-anaknya’. Tentu seorang bapak berkewajiban untuk memberikan nafkah yang layak kepada buah hatinya. Sehingga bekerja sedini mungkin merupakan tindakan positif untuk menyongsong masa depan yang cerah.

Bekerja sendiri, merupakan upaya untuk ‘menjemput’ karunia Allah yang, mungkin, sudah begitu dekat. Dengan kata lain, bekerja adalah upaya untuk ‘mengais’ rezeki-Nya yang terhampar luas di alam semesta. Dengan bekerja berarti pemuda dapat menunjukkan kegigihannya dalam menjalani kehidupan. Emas tidaklah turun begitu saja dari langit. Begitu juga mutiara, tidak akan pernah muncul dengan sendirinya. Semuanya butuh usaha yang berlandaskan keimanan kepada Allah ta’âla.

Ikhtitâm

Kita, termasuk penulis pribadi, sadar bahwa menjadi pemuda muslim yang ideal memang tidak mudah, kalau bukan sulit. Mengombinasikan antara sosok ‘abid dan ‘amil membutuhkan upaya cerdas dan kerja keras. Terkadang harus berpeluh keringat. Di saat lain, bahkan, harus merelakan diri untuk berlumurkan darah yang pekat. Namun semua itu tidaklah bepengaruh negatif jika kita melandasi hidup ini dengan keridhaan akan takdir-Nya. Seorang teman mengirimkan SMS yang ending-nya adalah sebuah ‘pertanyaan sekaligus jawaban’ yang menyentuh kalbu. “Mengapa perjuangan itu pahit? Jawabannya adalah, karena surga itu manis!” Semoga! Wallâhu syahîdun ‘ala mâ naqûlu. Wallâhu a’lamu bi ash-shawâb. []

Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

alquranwallpaper

[Al Islam 618] Peristiwa turunnya al-Quran di bulan Ramadhan setiap tahun senantiasa diperingati, begitu pula tahun ini seperti yang marak dilakukan pada hari-hari ini. Peringatan itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas diturunkannya al-Quran. Ramai dan semaraknya peringatan Nuzulul Quran di negeri ini patut mendapat apresiasi. Namun tentu saja peringatan itu tidak boleh berhenti hanya sebatas seremonial semata seperti yang terlihat selama ini.

Pengkerdilan Al-Quran

Seruan “membumikan al-Quran” oleh orang-orang liberal dimaknai sebagai reaktualisasi al-Quran. Reaktualisasi al-Quran dimaknai bahwa kandungan al-Quran harus ditafsirkan sedemikian rupa hingga sejalan dengan realitas aktual. Agar al-Quran sejalan dengan perkembangan zaman modern maka harus ditafsirkan ulang supaya bisa sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan pemaknaan seperti itu akhirnya al-Quran ditundukkan pada perkembangan zaman. Bagaimana mungkin al-Quran justru ditundukkan pada realitas rusak saat ini, padahal al-Quran itu diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup umat manusia?

Bahkan ada yang lebih lancang dengan menggugat keaslian al-Quran. Ada juga yang menuduh bahwa al-Quran itu tidak lepas dari ucapan dan pengungkapan Muhammad yang tidak bisa dilepaskan oleh pengaruh konteks zamannya. Seruan dan tuduhan seperti itu pada akhirnya justru akan merusak keyakinan umat akan kesucian al-Quran dan bahwa al-Quran itu merupakan wahyu dari Allah SWT baik lafazh maupun isinya sehingga pasti benar. Tak diragukan lagi bahwa seruan seperti itu bukan mendekatkan kepada al-Quran tapi sebaiknya justru menjauhkkan umat dari al-Quran. Sayangnya seruan yang berasal dari para orientalis itu justru diusung orang muslim yang dianggap intelektual. Tentu saja seruan itu dan semacamnya harus diwaspadai oleh umat siapapun yang membawanya.

Disamping semua itu, juga ada beberapa sikap keliru terhadap al-Quran. Kadang kala yang terjadi adalah mistikasi al-Quran. Al-Quran diangap sebagai ajimat pengusir setan. Padahal, al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, baik dan buruk serta terpuji dan tercela.

Begitu juga, sudah mentradisi, setiap tahun turunnya al-Quran dirayakan secara seremonial. Al-Quran dibaca dan didendangkan dengan merdu di arena MTQ, tadarusan al-Quran juga marak, dsb. Namun sayang, aktivitas tersebut belum diikuti dengan pemahaman atas maksud diturunkannya al-Quran. Al-Quran yang diturunkan sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, justru dijauhkan dari kehidupan.

Al-Quran merupakan kalamullah dan membacanya merupakan ibadah. Betul, bagi seorang Muslim, sekadar membacanya saja berpahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29), bahkan pahala itu diberikan atas setiap huruf al-Quran yang dibaca. Akan tetapi, yang dituntut oleh Islam selanjutnya adalah penerapan atas apa yang dibaca. Sebab, al-Quran bukan sekedar bacaan dan kumpulan pengetahuan semata, tetapi petunjuk hidup bagi manusia. Al-Quran tidak hanya sekadar dibaca dan dihapalkan saja, melainkan juga harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sering kita mendengar pernyataan bahwa al-Quran adalah pedoman hidup. Tetapi nyatanya al-Quran tidak dijadikan sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan. Al-Quran hanya diambil aspek moralnya saja sementara ketentuan dan hukum-hukumnya justru ditinggalkan.

Semua sikap itu sering diklaim sebagai sikap mengagungkan al-Quran. Disadari atau tidak semua sikap itu masih terjadi di tengah masyarakat. Padahal sesungguhnya sikap-sikap itu bukan bentuk pengagungan terhadap al-Quran, tapi sebaliknya justru pengkerdilan terhadap al-Quran. Bahkan boleh jadi semua itu termasuk sikap yang diadukan oleh Rasulullah saw dalam firman Allah SWT:

] وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا [

Dan berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan” (TQS. al-Furqan [25]: 30)

Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsîr al-Qurân al-’Azhîm, mencontohkan sikap hajr al-Qurân (meninggalkan atau mengabaikan al-Quran). Diantaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkan al-Quran; tidak mau menyimak dan mendengarkannya, bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar al-Quran saat dibacakan; tidak mentadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya, dan berpaling darinya lalu berpaling kepada selainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau thariqah yang diambil dari selain al-Quran.

Selain itu Allah SWT mensifati kaum yang melakukan hal itu dengan sifat yang sangat jelek. Hal itu seperti ketika Allah SWT mensifati kaum Yahudi di dalam firman-Nya:

] مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ [

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. (TQS al-Jumu’ah [62]: 5)

Melalui ayat tersebut, Allah mensifati kaum yang memikul wahyu tanpa melaksanakannya laksana keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Apa yang ada dalam perasaan kita ketika kita tidak melaksanakan al-Quran, lalu Allah SWT mengumpamakan kita seperti keledai? Orang yang beriman, bertakwa dan rindu akan ridla Allah Swt. Niscaya akan meneteskan air mata jika disebut begitu oleh Zat yang dia harapkan ampunan-Nya.

Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

Al-Quran sejatinya diturunkan oleh Allah untuk menjadi petunjuk, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, baik dan buruk serta terpuji dan tercela. Karenanya al-Quran itu harus dijadikan pedoman hidup. Untuk itu keimanan terhadap al-Quran haruslah totalitas, keseluruhannya, bagian per bagiannya, dan ayat per ayat yang ada di dalamnya. Mengingkari satu ayat al-Quran telah cukup menjerumuskan seseorang dalam kekafiran (QS. an-Nisa’ [04]:150-151).

Keimanan terhadap al-Quran itu mengharuskan untuk tidak bersikap ‘diskriminatif’ terhadap seluruh isi dan kandungan al-Quran. Tidak boleh terjadi, sikap bisa menerima tanpa reserve hukum-hukum ibadah atau akhlak, tetapi menolak hukum-hukum al-Quran tentang kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, pidana, atau hubungan internasional. Sebab semuanya sama-sama berasal dari al-Quran dan sama-sama merupakan wahyu Allah SWT.

Karena itu tidak semestinya muncul sikap berbeda terhadap satu ayat dengan ayat lainnya. Jika ayat Kutiba ‘alaykum ash-shiyâm -diwajibkan atas kalian berpuasa- (QS. al-Baqarah [02]: 183), diterima dan dilaksanakan, maka ayat Kutiba ‘alaykum al-qishâsh -diwajibkan atas kalian qishash- (QS. al-Baqarah [02]: 178); atau Kutiba ‘alaykum al-qitâl -diwajibkan atas kalian perang- (QS. al-Baqarah [02]: 216) tentu juga harus diterima dan dilaksanakan. Tidak boleh muncul sikap keberatan, penolakan, bahkan penentangan dengan dalih apa pun. Sikap ‘diskriminatif’ akan berujung pada terabaikannya sebagian ayat al-Quran. Itu merupakan sikap mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian lainnya. Sikap itu diancam oleh Allah akan mendapat kehinaan di dunia dan azab pedih di akhirat (QS al-Baqarah [2]: 85).

Menjadikan al-Quran sebagai pdoman hidup itu mengharuskan kita untuk mengambil dan melaksanakan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum yang diberikan oleh al-Quran dan hadits Nabi saw, yakni hukum-hukum syariah Islam. Sebab al-Quran juga memerintahkan kita untuk mengambil apa saja yang dibawa Nabi saw dan meninggalkan apa saja yang beliau larang (QS al-Hasyr [33]: 7).

Ketentuan dan hukum yang dibawa oleh al-Quran dan hadits itu mengatur seluruh segi dan dimensi kehidupan (QS. an-Nahl [16]: 89). Berbagai interaksi yang dilakukan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, semua berada dalam wilayah hukum al-Qur’an dan hadits.

Hanya saja, ada sebagian hukum itu yang hanya bisa dilakukan oleh negara, semisal hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar negeri, sanksi pidana, dsb. Hukum-hukum seperti itu tidak boleh dikerjakan individu dan hanya sah dilakukan oleh imam yakni khalifah atau yang diberi wewenang olehnya.

Karena itu, menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup itu tidak akan sempurna kecuali sampai pada penerapan hukum-hukum syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan totalitas. Dan itu tidak mungkin kecuali melalui kekuasaan pemerintahan dan dalam bingkai sistem yang menerapkan syariah, yang tidak lain sistem Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Peringatan Nuzulul Quran tahun ini hendaknya kita jadikan momentum untuk berkomitmen mewujudkan semua itu dalam tataran riil. Untuk itu hendaknya kita renungkan firman Allah SWT:

] فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا[

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20] 12-124)

Wallâh a’lam bi ash-shawâb

Tip Amalan Harian : 15 Sunnah Rasulullah SAW

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 .

Sebagai seorang muslim,seharusnya kita bisa mencontoh semua keseharian Rosulallah,

Berikut merupakan antara amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam dan ia menjadi sunnah  buat umatnya yang dikasihi. Amalan ini mampu menjadikan seseorang itu mencintai baginda dan boleh membawa seseorang itu cenderung ke arah  ‘soleh wa musleh’.

.

1.     Senyuman

Abdullah bin Al-Harist Radliyallahu’anhu menuturkan, yang artinya, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam.” (Riwayat At-Tirmidzi)

.

2.     Dahulukan Kanan

Daripada Aisyah, katanya: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam lebih suka mendahulukan yang kanan dalam segala hal (perbuatan) seperti memakai terompah, bersikat, berwuduk dan mandi.” (Hadis riwayat Muslim)

.

3.     Berpakaian

Ummu Salamah meriwayatkan: “Pakaian yang paling disukai oleh Baginda Shalallahu ‘alaihi wasalam ialah pakaian Qamis).” (Riwayat Tarmizi dan Abu Daud)

.

4.     Bercelak

Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:“Hendaklah kamu bercelak dengan menggunakan batu celak (Al-Itsmid) kerana celak dapat memperjelaskan penglihatan dan menumbuhkan bulu (mata).” (Riwayat Tarmizi dan Abu Daud)

.

5.     Memakai Cincin

Ali bin Abi Talib meriwayatkan: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam memakai cincin di jari tangan kanan Baginda.” (Riwayat Tarmizi, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban.)

.

6.     Makan

Ka’ab bin Malik r.a. meriwayatkan: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam makan menggunakan ketiga jari Baginda. Selepas makan  Baginda menjilati ketiga-tiganya.”(Riwayat Tarmizi, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)

.

7.     Minum

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan: “Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam minum, Baginda menarik nafas (menghela) dua kali.” (Riwayat Tarmizi dan Abu Syaikh)

.

8.     Bersilaturrahim

Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan, adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan persaudaraan.”   (Riwayat Ibnu Majah).

.

9.     Berjalan

Ali bin Abi Talib meriwayatkan: “Apabila Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam berjalan, tubuh Baginda tegak seperti sedang menuruni tanah yang landai.” (Riwayat Tarmizi dan Hakim)

.

10.  Berkata

Anas Ibnu Malik r.a. meriwayatkan: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mengulangi  perkataan Baginda tiga kali supaya lebih difahami (oleh pendengarnya).” (Riwayat Tarmizi dan Hakim)

.

11.  Tertawa

Abdullah bin Harith r.a. meriwayatkan: “Tawa Nabi Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wasalam hanyalah senyuman.” (Riwayat Tarmizi )

.

12.  Bergurau

Anas bin Malik r.a. meriwayatkan: “Betapa baiknya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalammenggauli kami. Baginda berkata kepada saudaraku yang masih kecil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh burung nughair?’” (Riwayat Tarmizi, Bukhari, Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad)

.

13.  Tidur

Aisyah r.ha. meriwayatkan: “Setiap kali hendak tidur pada malam hari, RasulullahShalallahu ‘alaihi wasalam selalu menadahkan  kedua tapak tangan sambil membaca Surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas kemudian Baginda meniup kedua-dua tapak tangan tersebut. Setelah itu, Baginda menyapu bahagian tubuh yang terjangkau, dimulai dari kepala, wajah lalu bahagian depan tubuh Baginda. Hal itu Baginda lakukan sebanyak tiga kali.” (Riwayat Tarmizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad)

.

14.  Membaca al-Quran

Ya’la bin Mamlak bertanya kepada Ummu Salamah tentang cara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam membaca al-Quran. Menurut Ummu Salamah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam membaca al-Quran dengan sangat jelas kalimah demi kalimah. (Riwayat Tarmizi, Bukhari, Abu Daud dan Nasa’i)

.

15.  Ibadah

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam melaksanakan solat hingga kedua-dua kaki Baginda bengkak. Beliau bertanya, “Mengapa engkau melakukan hal ini padahal engkau mengetahui bahawa Allah SWT telah mengampuni dosamu yang telah berlalu dan akan datang?” Baginda Shalallahu ‘alaihi wasalammenjawab, ‘Tidakkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?’.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Khuzaimah)

.

.

والله أعلم بالصواب

 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

Tahukah Anda? Ada Saat Do’a Mustajab pada Hari Jum’at, Ayo Manfaatkan !

By : Muhammad Rizky

Doa adalah senjata orang mukmin, ia penghilang kegundahan, pelenyap kesusahan dan solusi jitu untuk menyelesaikan berbagai problematika hidup, karena memang pada saat berdoa kita sedang memohon kepada Dzat yang Menguasai dan Memiliki seluruh jagad raya ini; di tangan-Nya lah segala perbendaharaan langit dan bumi. Pertanyaannya, kapankah waktu ketika doa dijamin akan dikabulkan pada hari Jum’at sebagaimana yang diriwayatkan oleh  Al-Bukhari dan Muslim dalam shahihnya?

Sebaik-baik hari bagi umat Islam dalam sepekan adalah hari Jum’at. Ia-lahsayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta’ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat Al-Kahfi, shalat Jum’at berikut amalan-amalan yang menyertainya, dan amal ibadah lain yang sangat dianjurkan sekali pada hari Jum’at. Di dalamnya juga terdapat satu waktu di mana doa begitu mustajab; dijanjikan akan dikabulkan. Tidaklah seorang hamba yang beriman memanjatkan do’a kepada Rabbnya pada waktu itu kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak berisi pemutusan silaturahmi dan tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan dan memanfaatkan waktu yang berbarakah ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah membicarakan tentang hari Jum’at lalu beliau bersabda,

« فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ »

“Pada hari  itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim shalat berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, -yang kami pahami- untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (HR. Bukhari nomor 893[1]dan Muslim nomor 852) [2]

Hadits ini berkaitan dengan salah satu keutamaan hari Jum’at di mana pada hari tersebut Allah akan mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Nya. Doa yang dipanjatkan pada saat itu mustajab (mudah dikabulkan) karena bertepatan dengan waktu pengabulan doa.

Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang waktu dikabulkannya doa pada hari Jum’at ini. Sampai-sampai Ibnu Hajar[3] dan Asy-Syaukani[4] menyebutkan empat puluh tiga pendapat beserta argument masing-masingnya. Dari kesemuanya, pendapat yang paling kuat tentang waktu mustajab pada hari Jum’at ini ada dua; yaitu pertama, sejak duduknya imam di atas mimbar hingga shalat selesai, dan kedua, di akhir waktu setelah shalat Ashar. Tentang hal ini, Ibnu Hajar berkomentar, “Tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling kuat adalah hadits Abu Musa (sejak duduknya imam di atas mimbar hingga shalat selesai) dan hadits Abdullah bin Salam (akhir waktu setelah shalat Ashar).” Muhibb Ath-Thabari juga berkata, “Hadits yang paling shahih adalah hadits Abu Musa, dan pendapat yang paling masyhur adalah pendapat Abdullah bin Salam.[5] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga berkata, “Pendapat yang paling kuat adalah dua pendapat yang dituntut oleh hadits-hadits yang tsabit, dan salah satunya lebih kuat daripada yang lain.”[6] Dari sinilah kemudian para ulama salaf berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih kuat.

Berikut ini uraian lebih rinci tentang kedua pendapat tersebut :

Pendapat pertama : waktu mustajab itu dimulai sejak duduknya imam di atas mimbar sampai shalat selesai. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari, dia bercerita, “Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku, ‘Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum’at?’ Aku (Abu Burdah) menjawab, “Ya, aku pernah mendengarnya berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

“Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat.” (HR. Muslim nomor 853 [7] dan Abu Dawud nomor  1049 [8]).

Pendapat kedua : waktu mustajab berada di akhir waktu setelah shalat Ashar.

Hadits yang menerangkan hal ini cukup banyak, di antaranya :

1. Hadits Abdullah bin Salam

Abdullah bin Salam berkata, “Aku berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum’at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sesaat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya,‘kapan saat itu berlangsung?’ beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Saat itu berlangsung pada akhir waktu siang.” Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, ‘Bukankah saat itu bukan waktu shalat?’ beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاة

“Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat.” (HR. Ibnu Majah nomor 1139, dan Syaikh Al-Albani menilainya hasan shahih[9]).

2. Hadits Abu Hurairah

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Suatu ketika saya keluar menuju sebuah bukit, lalu saya berjumpa dengan Ka’ab Al-Ahbar, maka saya pun duduk-duduk bersamanya. Lantas, ia menceritakan perihal kitab Taurat kepada saya, dan saya pun menceritakan perihal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam kepadanya.

Di antara perkara yang saya ceritakan kepadanya ialah, ketika itu saya mengatakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baik hari yang disinari matahari ialah hari Jum’at –sampai pada sabda beliau- ‘Di dalamnya terdapat satu waktu, tidaklah seorang muslim melakukan shalat bertepatan dengan waktu tersebut, lalu ia memohon sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya itu.”

Ka’ab berkata, ‘Apakah yang demikian itu berlangsung satu hari dalam setahun?’, maka, saya menjawab, ‘Bukan, tetapi dalam setiap hari Jum’at.’ Lantas, Ka’ab pun membaca kitab Taurat, lalu ia berkata, ‘Rasulullah benar’

Abu Hurairah melanjutkan, “Lalu saya berjumpa dengan Bashrah bin Abu Bashrah Al-Ghifari. Lantas, ia bertanya kepada saya. ‘Dari mana Anda tadi?’ saya menjawab, ‘Dari sebuah bukit’ maka ia berkata, ‘Kalau saja saya berjumpa dengan Anda sebelum Anda keluar ke sana, maka saya tidak akan keluar. Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Tidak boleh bepergian (dalam rangka beribadah) kecuali ke tiga masjid: masjidil Haram, masjidku ini (masjid Nabawi), dan masjid Elia (masjil Aqsha di Baitul Maqdis). Ia ragu.’

Abu Hurairah berkata, “Saya kemudian berjumpa dengan Abdullah bi Salam. Maka saya pun menceritakan perihal perbincangan saya dengan Ka’ab Al-Ahbar kepadanya, dan mengenai apa yang saya ceritakan kepadanya tentang hari Jum’at.”

Saya –Abu Hurairah- berkata, “Ka’ab mengatakan bahwa yang demikian itu terjadi satu hari dalam setahun.”

Abu Hurairah melanjutkan, “Abdullah bin Salam berkata, ‘Ka’ab telah berbohong.’, lalu saya mengatakan, ‘Kemudian Ka’ab membaca kitab Taurat, dan berkata, ‘Ya, benar, yang dimaksud ialah pada setiap hari Jum’at.’ Maka, Abdullah bin Salam berkata, ‘Ka’ab benar.’ Selanjutnya, Abdullah bin Salam mengatakan, ‘Sesungguhnya saya mengetahui persis mengenai waktu yang dimaksud itu?’

Abu Hurairah berkata, “Saya berkata kepadanya, ‘Beritahukan kepada saya tentang waktu itu, dan jangan sekali-kali kamu menyembunyikannya terhadap saya.’ Maka, Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktu yang dimaksud adalah waktu yang akhir pada setiap hari Jum’at.’

Abu Hurairah berkata, “Lantas, saya bertanya, ‘Bagaimana mungkin kalau waktu yang dimaksud ialah saat-saat yang terakhir pada hari Jum’at, sementara Rasulullah sendiri telah bersabda, “Tidaklah seorang muslim menjumpainya, di kala ia sedang melakukan shalat…; sementara waktu yang kamu sebutkan itu ialah waktu yang tidak boleh melakukan shalat?’

Lantas, Abdullah bin Salam menjawab,

أَلَمْ يَقُلْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ جَلَسَ مَجْلِسًا يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فَهُوَ فِى صَلاَةٍ حَتَّى يُصَلِّىَ »

‘Bukankah Rasulullah juga telah bersabda, ‘Barangsiapa yang duduk pada suatu majelis sambil menunggu-nunggu shalat, maka ia itu berada dalam kondisi melakukan shalat hingga ia benar-benar melaksanakan shalat?’.”

Abu Hurairah berkata, “Saya berkata, ‘Ya, tentu.’ Abdullah bin Salam berkata, ‘Ya, itulah waktu yang dimaksud’.” (HR. Abu Dawud nomor 1046[10], At-Tirmidzi nomor  491, dan Abu Isa berkomentar hadits hasan shahih, sedangkan Al-Albani berkomentar hadits shahih.[11]).

3. Hadits Jabir bin Abdillah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Dari Jabir bin Abdillah, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hari Jum’at adalah dua belas jam. Di dalamnya terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah ia pada saat-saat terakhir setelah shalat Ashar.”  (HR. An-Nasa’I nomor 1388[12]).

Dari dua pendapat ini, pendapat yang terkuat adalah pendapat kedua. Inilah pendapat mayoritas ulama. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pendapat ini dianut oleh Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad dan yang lainnya.[13] Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, “Saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahli Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut.” [14]

Sekalipun pendapat kedua lebih kuat, beberapa ulama tetap menganggap bahwa pendapat pertama juga perlu diakui keabsahannya. Oleh karenanya mereka berusaha mengambil jalan tengah dengan menggabungkan kedua pendapat di atas. Tetap melazimi berdoa pada kedua waktu tersebut.

Imam Ahmad berkata, “Mayoritas hadits tentang waktu yang diharapkan terkabulnya doa menunjukkan bahwa itu terjadi setelah Ashar, tetapi juga diharapkan setelah tergelincirnya matahari (setelah imam berdiri untuk berkhutbah pen.).” [15]

Ibnu Abdil Barr berkata, “Semestinya yang dilakukan seorang muslim adalah bersungguh-sungguh memanjatkan doa kepada Allah untuk kebaikan agama dan dunia pada dua waktu yang telah disebutkan karena berharap dikabulkan. Karena doa itu tidak akan sia-sia, insyaAllah. Sungguh benar perkataan Ubaid bin Abrash yang mengatakan, “Siapa yang meminta kepada manusia, mereka akan menolaknya, dan siapa yang meminta Allah, pintanya tidak akan sia-sia.” [16] Bahkan, Ibnul Qayyim yang menguatkan pendapat kedua pun, beliau tetap menekankan agar setiap muslim tetap membiasakan berdoa pada waktu shalat. Katanya, “Menurut hemat saya, waktu shalat juga merupakan waktu yang diharapkan terkabulkannya doa. Jadi, keduanya merupakan waktu mustajab meskipun satu waktu yang dikhususkan di sini adalah akhir waktu setelah shalat Ashar. Sehingga ia merupakan waktu yang telah diketahui secara pasti dari hari Jum’at; tidak maju dan tidak mundur. Adapun waktu shalat, ia mengikuti shalat itu sendiri; maju atau mundurnya. Sebab, dengan berkumpulnya kaum muslimin, shalat, kekhusyukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar untuk dikabulkan. Karena, ketika kaum muslimin sedang berkumpul sangat diharapkan sekali doa terkabulkan.” [17]Selanjutnya Ibnul Qayyim berkesimpulan, “Dengan demikian, semua hadits yang disebutkan di atas sesuai dan berkaitan. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk senantiasa memanjatkan doa dan bermunajat kepada Allah pada dua waktu dan masa ini.”[18]

Hal ini juga diikuti oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa’id bin Ali al Qahthan dalam Shalâtul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, “Hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum’at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat Ashar. Mungkin saat ini juga terjadi setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan.” [19]

Jadi, mari tetap memuliakan dua waktu tersebut dengan banyak-banyak berdoa, karena doa kita pasti dikabulkan, entah kapan; diijabahi langsung, atau dihindarkan dari bahaya yang setara dengan doanya, atau sebagai penghapus dosa, atau menjadi simpanan di akhirat kelak. Wallahu A’lam bish Shawab.

RAHASIA DIBALIK HIJAB GAUL

hijab g vs s

Oleh: Asy Syifa Azkia Sabila

Alhamdulillah, kesadaran memakai jilbab telah mulai tumbuh di kebanyakan wanita muslimah di tanah air kita. Memakai jilbab sudah bukan merupakan barang aneh atau terlarang di tempat kerja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan terbukanya era globalisasi, banyak sekali dari wanita muslim yang ingin berpakaian syar’i, mereka ingin memakai jilbab, tapi mereka juga ingin tampil modis dan cantik. Mereka memakai jilbab karena mengikuti trend atau agar terlihat “Islami”, terlihat lebih anggun dan cantik, atau hanya ikut-ikutan saja. Maka mereka pun lebih mementingkan faktor keindahannya, keanggunan dan gaya, TANPA MEMPEDULIKAN SUDAH BENAR ATAU BELUM JILBAB YANG DIGUNAKANNYA.

Tak pelak, kita dapatkan seorang wanita muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis dan transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Contohnya, kepala dibalut kerudung/jilbab, tapi berbaju atau berkaos ketat, bercelana jeans atau legging yang mencetak lekuk tubuhnya.

Fenomena inilah yang mulai menjamur dan membingungkan kebanyakan orang awam, sebagian mereka berkomentar “MASIH MENDING PAKAI JILBAB GAUL DARIPADA GAK PAKE SAMA SEKALI!!” Yang lain berkomentar, “LHO, INI KAN MASIH DALAM TAHAP BELAJAR?!”, “YANG UDAH PAKE JILBAB DIKOMENTARIN TERUS, TAPI GIMANA SAMA WANITA YANG PAKE BIKINI? KOK GAK DIKOMENTARIN?” Dan komentar lainnya yang terkesan benar, tapi sejatinya sangat-sangat jauh dari kebenaran. Karena seorang muslim dituntut untuk menjalankan agama secara kaffah (total dan sempurna).

BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG HAL FENOMENA INI?

ADAKAH DOSA DIBALIK JILBAB GAUL?

Jikalau kita cermati, jilbab yang dipakai oleh wanita muslimah itu bermacam-macam. Bisa kita bagi secara umum menjadi 3 macam jilbab, yaitu:

– Jilbab besar,

– Jilbab biasa,

– Jilbab gaul atau jilbab “funky bin jilbab nyekek leher” saja

Simak penjelasannya satu-persatu

– Jilbab besar adalah jilbab syar’i, yaitu jilbab yang menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah. Pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal (yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia & perhiasannya) maupun pakaian yang bernilai rendah (yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya’). (Imam Asy Syaukani dalam Nailul Athar II/94)

– Adapun jilbab biasa adalah sama dengan di atas, namun dengan ukuran yang sedang, tidak sebesar jilbab di atas. Hukum jilbab seperti ini adalah tidak mengapa, asal sifat-sifat yang ada pada jenis pertama (menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah) masih bisa dipertahankan.

– Sedangkan jilbab gaul adalah jilbab yang lagi booming sekarang ini. Contoh-contohnya:

Ada yang memakai kerudung dengan bawahan rok yang hanya sebetis/ malah kain yang dipakai berbelah di depan (split), ada yang hanya mengikatkan kerudung pada kepala tanpa menutup dada, ada yang memakai bawahan hanya ngepas pada mata kaki dan tanpa kaos kai, ada juga yang memakai baju berlengan panjang hingga pergelangan tangan tanpa decker/kaos tangan, sehingga jika diangkat tangannya maka akan terlihat perhiasan yang ada di tangannya, ada yang pakai kerudung tapi untaian rambutnya lebih panjang daripada kerudungnya ada yang pakai kerudung “saringan tahu” karena saking tipisnya sehingga rambut dan ikat rambutnya terlihat jelas, ada yang pakai jilbab dengan corak warna yang mencolok sehingga bisa mencuri perhatian sekitar terutama laki-laki. Ada yang menghiasi jilbab dengan renda dan asesoris yang mencolok seperti bros, yang terakhir, ada yang jilbab “nyekek leher” lalu luarnya ditambah kerudung/kain yang berbeda warna dengan yang di dalam, yang terlihat seperti “Biarawati Nasrani” …wal iya dzubillah.

Bagi wanita muslimah yang memakai jilbab jenis ketiga ini, apakah bisa dikatakan sudah cukup dan lebih “mending” dan baik daripada yang tidak pakai sama sekali?

Jawabannya, justru bisa jadi wanita tersebut berdosa karena melanggar batasan-batasan syari’at tentang jilbab dan busana muslimah. Hal ini jika kita cermati, niscaya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan dari jenis jilbab “gaul” ini, antara lain:

A. JILBAB GAUL TIDAK MENUTUP AURAT SECARA SEMPURNA (HANYA “MEMBUNGKUS” AURAT)

Aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Namun, banyak dari busana muslimah saat ini, tidak menutupi aurat secara keseluruhan. Masih ada saja celah-celah yang menampakkan aurat mereka. Di antara mereka masih ada yang menampakkan leher, lengan, tangan, kaki. Padahal jilbab syar’i adalah yang menutup aurat secara sempurna, kecuali muka dan telapak tangan saja.

Dari Abu Dawud, dari Aisyah berkata, bahwa Asma suatu kali mendatangi Rasulullah dengan mengenakan pakaian tipis lalu Rasulullah berkata kepadanya,”Wahai Asma’, wanita yang telah haid (maksudnya telah baligh), tidak boleh terlihat darinya kecuali ini, beliau mengisyaratkan ke mukanya dan telapak tangannya.” (HR.Abu Dawud no.4104)

B. JILBAB GAUL MENARIK PERHATIAN KAUM LELAKI

Di antara tujuan jilbab adalah melindungi diri dari godaan lelaki dan menghindar dari fitnah, namun jilbab gaul justru malah menarik perhatian kaum lelaki. Bagaimana mungkin jilbab justru menarik perhatian kaum lelaki? Hal ini disebabkan antara lain:

– Jilbab gaul berwarna warni dan dihiasi berbagai macam motif. Syaikh al Albani menegaskan, “Tujuan disyari’atkannya memakai jilbab adalah untuk menutup perhiasan wanita, maka tidak masuk akal jika seorang wanita muslim memakai jilbab yang penuh motif & hiasan”. (Jilbab Mar’ah Muslimah: 120)

Oleh karenanya, Allah berfirman,”Dan janganlah menampakkan perhiasannya” (QS.An Nur: 31). Keumuman ayat ini menunjukkan bahwa hiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah mencakup pakaian itu sendiri jika dipenuhi oleh hiasan yang menarik perhatian kaum lelaki.

APAKAH BERARTI SEORANG WANITA MUSLIM HARUS MEMAKAI PAKAIAN HITAM?

Tidak juga, karena kriteria pakaian bagi muslimah adalah pakaian yang berwarna lazim atau familiar, tidak menjadi pusat perhatian. Sehingga, jika suatu daerah justru membenci warna hitam, maka tidak mengapa dia memilih pakaian berwarna terang seperti merah, hijau, dll jika termasuk pakaian yang lazim dipakai.

Ibrahim an Nakha’i suatu hari bersama Alqamah mendatangi para istri Nabi, mereka berdua mendapatkan istri para Nabi memakai pakaian berwarna merah. (Jilbab Mar’ah Muslimah: 122)

– Jilbab gaul tipis dan transparan

Menutup aurat tidak mungkin terwujud dengan pakaian tipis dan transparan, justru dengan pakaian tipis, akan menambah fitnah dan menjadi hiasan bagi kaum wanita. Karenanya Nabi ﷺ bersabda, ”Dua golongan dari ahli Neraka yang tidak pernah aku lihat: seseorang membawa cambuk seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepalanya bagai punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya,sekalipun ia bisa didapatkan sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR.Muslim)

Ibnu Abdil Barr mengatakan,”Makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ (berpakaian tapi telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutup dengan sempurna). Mereka berpakaian, namun hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Mar’ah Muslimah: 125-126)

– Jilbab Gaul ketat, memakai jilbab itu bertujuan menghindari fitnah, dan hal ini tak mungkin terwujud dengan memakai pakaian ketat. Meskipun terkadang pakaian ini menutupi warna kulit, namun pakaian seperti ini menampakkan sebagian bahkan seluruh lekuk tubuh.

– Jilbab Gaul berparfum, padahal Nabi ﷺ menegaskan,”Tidaklah seorang wanita memakai minyak wangi lalu keluar melewati sebuah kaum supaya mereka mencium parfumnya, maka sesungguhnya wanita itu adalah pezina.” (HR.Ahmad)

– Jilbab Gaul menyerupai wanita-wanita kafir, karena biasanya jilbab gaul mengikuti mode yang sedang berkembang di dunia barat kemudian dipoles sedikit dengan nuansa Islami, belum lagi dengan model yang sedang nge- trend yang menyerupai biarawati nasrani..wal iya dzubillah

MENGAPA FENOMENA INI SEMAKIN MARAK DAN DIGANDRUNGI OLEH SEBAGIAN REMAJA PUTERI DAN WANITA MUSLIMAH?

Boleh jadi hal ini disebabkan pengetahuan mereka yang minim mengenai jilbab yang syar’i. Sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja, sebab pemahaman keIslamannya masih minim. Atau mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menggiring kaum muslimah keluar rumah dalam keadaan “telanjang” dengan alasan emansipasi, kesetaraan gender,dll. Propaganda lainnya yang menyebutkan bahwa jilbab hanya adat dan budaya negara Arab saja, dsb.

Bagaimana solusinya? Tentunya dengan menanamkan pendidikan Islam secara menyeluruh dan berkesinambungan kepada para generasi muda umat ini dimulai dari diri mereka sendiri.

Wallahu A’lam

ISIS BUKAN TERORIS

isis-flagsejak pemberitaan ISIS di televisi dan berbagai media cetak dan online, timbul pembahasan ISIS di dunia kampus dan sekolah-sekolah di Indonesia, bahkan sampai merambat ke dunia maya. Mereka bertanya apa sebenarnya ISIS itu. Ada yang bersikap acuh, dan ada yang menghindar dan tidak mau tahu, ada pula mencari sumber-sumber yang memberitakan tentang ISIS, dan ada pula yang serius ingin tahu lebih banyak tentang ISIS.

Stigma negatif yang dilontarkan media-media sekuler di televisi tidak membuat orang-orang kritis menjauh dari fakta-fakta yang ada. Justru hal itu menjadi daya tarik yang membuat penasaran semua orang, apakah sebenarnya yang terjadi.

Bila Daulah itu dhalim lagi aniaya atau khawarij atau ghuluw tentulah kaum muslimin membencinya tanpa butuh serangan media yang intensif terhadapnya, dan tentu kebencian mereka akan bertambah dengan adanya serangan media terhadapnya. Akan tetapi apa yang kita saksikan adalah sebaliknya, yaitu bertambahnya jumlah orang-orang yang membai’at Daulah dan para pendukungnya di berbagai belahan dunia, serta bermunculannya statemen-statemen pembelaannya dari banyak kaum muslimin dari berbagai belahan timur dan barat bumi, maka ini adalah dalil lain yang menunjukkan bahwa Daulah itu adalah thaifah manshurah yang mendapatkan bimbingan dengan karunia Allah, nikmat-Nya dan pemuliaan-Nya di mana Dia memasukan kecintaan kepada Daulah dan dukungan kepadanya di dalam hati makhluk-makhluk-Nya yang memiliki fithrah yang sehat, dan ia dibenci -dan memang pantas dibenci- oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafiq.

Lalu sebenarnya apa ISIS itu, dimanakah mereka, berasal dari mana mereka, dan apa tujuan mereka. Ini sejumlah pertanyaan yang mungkin ada dibenak orang-orang yang mau berfikir dan mencari tahu tentang fenomena teraktual hari ini.

SEJARAH PERKEMBANGAN ISIS

Sebenarnya musuh-musuh Islam sangat dipusingkan dan disibukkan sekali -dan memang mereka pantas untuk sibuk- dengan perkembangan baru yang berbahaya yang muncul di front jihad Islamiy yang mereka sebut dengan “teror”, dan mereka dengan segala sarananya sangat berambisi untuk memerangi dan menghabisinya, yaitu perkembangan baru yang seorangpun dari mereka tidak mengira itu bisa terjadi atau mungkin terwujud pada dunia realita, yaitu Pendeklarasian tegaknya Daulah Islamiyyah yang dilakukan oleh sekelompok mujahidin di bumi Iraq, yang memiliki pemimpin yang sah dari Alu Al Bait dan dari keturunan Al Huseniy Al Fathimiy Al Qurasyiy Asy Syarif (Abu Umar Al Baghdadiy semoga Allah menerimanya), dan beliau memiliki menteri perang dan para pembantu lainnya, dan Al Qaidah Iraq-pun membai’at Daulah yang baru lahir ini dan bergabung dengannya serta berperang di bawah panjinya, dan Daulah ini diberikan tazkiyah oleh Pemimpin Al Qa’idah Iraq saat itu yaitu Abu Hamzah Al Muhajir -semoga Allah menerimanya- dan ia membai’atnya.

Maka para mujahidin di Iraq pada tahun 1427H yang bertepatan dengan tahun 2006M bersegera membentuk Daulah ini setelah berkumpulnya sejumlah faksi-faksi jihad di dalam payung perjanjian Hilfu Al Muthayyibin dan tercapailah pemilihan Abu Umar Al Huseniy Al Baghdadiy sebagai amir baginya, dan Daulah ini diberi tazkiyah oleh para pemimpin Qa’idatul Jihad di antaranya Syaikh Usamah Ibnu Laden rahimahullah wa taqabbalah, dan juga Al Mullaa Umar Mujahid hafidhahullah serta banyak pimpinan jihad di dunia ini

Maka Daulah ini disebut Daulah Islamiyah Iraq (ISI), ini merupakan ide cemerlang dari Syeikh Abu Mush’ab Az-Zaraqawi dan sejumlah tokoh jihad saat itu. Daulah didirikan agar orang-orang kafir tidak memetik buah hasil jihad para mujahidin yang ikhlas, Daulah Islamiyah dibentuk agar tidak adanya kesempatan bagi orang kafir untuk mendirikan negara sekuler berasas Demokrasi.

Namun di tahun yang sama, pada tanggal 20 mei 2006 telah dilantik Perdana Menteri pemerintah transisi Iraq, Nouri Al Maliki. Dia adalah seorang Syiah menjadi boneka Iran dan AS. Di saat itulah kaum muslimin Iraq hidup dalam diskriminasi Syiah, mereka tidak punya tempat berlindung ketika Syiah berkuasa, padahal disaat itu Syiah jumlahnya minoritas, namun dapat mengendalikan negara.

Bertempurlah antara Daulah Islamiyah Iraq dengan pemerintah boneka Iraq selama bertahun-tahun hingga hari ini. Pertempuran antara Haq dan Bathil akan senantiasa ada sampai hari ketetapan Allah tiba. Dan Daulah Islamiyah Iraq, bukanlah negara diatas negara, melainkan mereka mempunyai kekuasaan dan telah mendirikan Negara Islam. Sehingga negara bertempur dengan negara tidak dapat dihindari lagi dalam satu wilayah.

Kemudian Al Amir Abu Umar taqabbalah mengalami syahadah pada tahun 2010M setelah sejarah jihad yang cemerlang, dan kemudian dipilihlah Al Imam Abu Bakar Al Huseniy Al Baghdadiy hafidhahullah sebagai penggantinya, maka dengan karunia Allah beliau ini adalah sebaik-baiknya pengganti bagi sebaik-baiknya orang yang diganti sedang Allah-lah yang menilai, di mana di masanya telah meluas operasi-operasi penyerangan terhadap Rafidlah Iraq yang aniaya dan di zamannya banyak penjara yang dibebaskan,

DOWNLOAD SEJARAH ISIS DALAM BENTUK E-BOOK (Al-Mustaqbal Magazine Edisi 3 – 14 MB) : http://goo.gl/9l96KM

TERJADINYA PEMBANTAIAN SURIAH

Suriah dipimpin oleh Bashar Al Assad, presiden yang beragama Syiah Nushairiyah, yang berkuasa secara otoriter pada saat itu. Awal peristiwa pembantaian di Suriah dimulai pada Maret 2011. Masalah mulai timbul di kota Deraa, Syria. Penduduk setempat turun kejalan memprotes setelah 15 anak sekolah ditahan, dan dilaporkan mereka disiksa – Penduduk melakukan aksi anti pemerintah dengan membuat graffiti di dinding.

Aksi demo dimulai dengan damai, menyuarakan pembebasan anak-anak sekolah, dan memberikan kebebasan yg lebih luas pada rakyat. Pemerintah merespon aksi demo dengan murka, dan pada 18 Maret 2011, tentara melepaskan tembakan ke demontran, 4 orang tewas.

Hari berikutnya, mereka menembaki orang-orang yg sedang berkabung dipemakaman, menewaskan 1 orang. Masyarakat Suriah shock dan marah dengan apa yg telah terjadi dan kerusuhan menyebar diberbagai tempat di Syria.

Mulai dari peristiwa ini pembantaian terjadi oleh kaum muslimin Suriah, yang paling terkenal adalah peluncuran roket dengan muatan gas kimia pada tanggal 27 maret 2013 di kota Aleppo, 2.400 orang meninggal tak terkecuali dokter yang menolong pun turut syahid insha Allah. Hingga saat ini korban berjatuhan sampai 150.000 kaum muslimin meninggal dunia.

LAHIRNYA JABHAH AL NUSRAH

Di zaman kepemimpinan Syeikh Abu Bakar Al-Baghdadiy pada tahun 2011 terjadilah revolusi keluarga kita di Syam dan mereka meminta pertolongan kaum muslimin setelah Basysyar An Nushairiy (Bashar Al Assad, Presiden Syiah Suriah) semakin menjadi-jadi di dalam membunuhi mereka dan menghalalkan kehormatan mereka, maka Al Amir Abu Bakar bersegera menolong dan menyelamatkan mereka di mana beliau membentuk Jabhah Nushrah dan mengangkat Abu Muhammad Al Jaulaniy sebagai amirnya, dan beliau menyokongnya dengan separuh Baitul Mal dan senjata. Dan Jabhah Nushrah bisa menghadang banyak dari serangan-serangan (Basysyar) yang aniaya lagi bejat terhadap kaum muslimin mustadl’afin di Syam dengan karunia Allah.

Syaikh Al-Jaulani pada bulan Agustus 2011 berpindah tugas ke Suriah. Tepatnya, setelah 5 bulan dari awal revolusi. Ketika itu, jumlah mereka hanya tujuh atau delapan tentara Daulah, yang asli kelahiran Suriah.

Jabhah Nushrah itu adalah elemen yang menginduk kepada Daulah Islamiyyah saat itu dan di atas leher amirnya yaitu Al Jaulaniy juga ada bai’at kepada Amirnya yaitu Al Baghdadiy yang telah menyokongnya dengan segala hal yang menjadikan Jabhah ini bisa tetap hidup, eksis dan tegak. Ini adalah point penting sekali dan point pamungkas, dikarenakan pencari kebenaran akan membutuhkannya di dalam menyikapi kejadian-kejadian yang akan datang sesudahnya.

MASUKNYA DAULAH ISLAMIYAH IRAQ MENUJU SURIAH

Setelah tiga tahun bara api revolusi menyala di bumi Suriah, pada tahun 2013 Daulah Islam Iraq memproklamirkan perluasan wilayahnya di Suriah menjadi Daulah Islam Iraq dan Syam (ISIS). Melalui pesan audio Amirul Mukminin Syaikh Al Jalil Abu Bakar Al Husaini Al Qurosyi Al Baghdadi, beliau mengumumkan bahwa mujahidin Jabhah Nushroh merupakan perpanjangan tangan Daulah di Suriah.

Lalu seiring semakin bertambahnya wilayah yang berhasil dibebaskan dari cengkeraman rezim Nushairiyah, pihak Daulah Islam Iraq berpendapat untuk segera mendeklarasikan sebuah daulah dengan wilayah mulai dari Iraq sampai (sebagian) Syam dengan maksud agar segera bisa memberlakukan syariat Islam di wilayah yang telah dikuasai dan agar lebih tertib dalam berkhidmat kepada ummat yang baru saja dibebaskan dari rezim Nushairiyah.

Namun pihak Al Qaedah pusat tidak menyetujuinya –pada waktu itu- karena menurut pendapat qiyadah pusat AQ strateginya adalah : daulah Islam tetap hanya di Iraq saja, sementara untuk wilayah Syam nanti akan berdiri sendiri dengan nama baru dan menunggu kesepakatan dengan beberapa kelompok mujahidin lainnya.

Akhirnya JN memilih mengikuti arahan qiyadah pusat AQ dan mengabaikan ajakan dari Daulah Islam Iraq untuk mendeklarasikan ISIS dan bergabung di dalamnya. Dan pihak Daulah Islam Iraq akhirnya tetap mendeklarasikan Daulah Islam Iraq wa Syam ( ISIS ). Inilah awal mula perselisihan itu antara JN dan ISIS yang berkepanjangan hingga saat ini.

Namun sejatinya ISIS dan JN adalah satu tubuh yang memiliki aqidah yang sama, hal ini adalah sebagai ujian diantara mujahidin apakah mereka akan bersabar atau akan berbalik mundur dari medan tempur. Kita berdoa semoga mujahidin dapat bersatu kembali dan berharap semoga badai ini akan segera berlalu.

PROKLAMASI KHILAFAH ISLAMIYAH

Setelah kekuasaan ISIS meluas hingga Suriah, kemudian ISIS meneruskan ekspansinya ke Iraq hingga menguasai provinsi Al-Anbar, Provinsi Nainawa, dan kota terbesar kedua di Iraq yaitu Mosul berhasil dikuasai ISIS.

Melalui saluran resmi media Daulah Islam, Yayasan Al-Furqon, Khilafah Islamiyah yang menjadi dambaan umat Islam seluruh dunia hampir 100 tahun (sejak keruntuhannya pada 3 Maret 1924) dideklarasikan di awal bulan yang penuh barokah, 1 Ramadhan 1435 Hijriyyah atau bertepatan dengan tanggal 29 Juni 2014. Allahu Akbar!

Ini adalah janji Allah! Demikian video yang berisikan deklarasi Daulah Khilafah Islamiyah yang disampaikan melalui jubir Daulah Islam Di Iraq Dan Syam atau ISIS (Syekh Mujahid Abu Muhammad Al-Adnaniy) yang kini Alhamdulillah menjadi Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!

Umat Islam di seluruh dunia sujud syukur, meneteskan air mata haru dan gembira mendengar kabar yang sangat menggembirakan ini. Sang Perisai ummat telah datang, pelindung dan pelayan ummat yang sesungguhnya, Khilafah Islam, dengan Amirul Mu’minin-nya, Syekh Abu Bakar Al-Baghdady-hafizahullah.

Masyarakat Raqqah, ibu kota Khilafah Islam, antusias dan gembira sesaat deklarasi Khilafah Islamiyah disampaikan, mereka turun ke jalan dengan membawa bendera Khilafah Islam, tertawa dan tersenyum atas karunia dari Allah SWT., dideklarasikannya Khilafah Islam.

Dengan suara yang tegas, tenang, dan berwibawa, juru bicara Khilafah Islam, Syekh Mujahid Abu Muhammad Al Al-Adnany mengawali pembacaan deklarasi (setelah salam dan sholawat) dengan mengutip firman Allah SWT., dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 yang menjelaskan tentang Tamkin Dan Istikhlaf dan Amn, atau kekuasaan dan kemenangan, serta keamanan yang merupakan janji dari Allah SWT kepada kaum Muslimin.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”

Syekh Mujahid Abu Muhammad Al-Adnany pun membubarkan ISIS dan mendeklarasikan tegaknya Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar! Tidak ada berita hari ini yang paling mengguncangkan dan menggentarkan seantero dunia, selain deklarasi Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!

Seluruh musuh-musuh Islam pasti akan terkejut, para pendengki akan semakin iri dan sakit hati, sedangkan kaum Muslimin akan tersungkur bersujud, menitikkan air mata, Allah SWT., yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah memberikannya umur dan kesempatan untuk dapat mendengar dan menyaksikan Khilafah Islamiyyah yang selama ini ditunggu dan dinanti, diperjuangkan, akhirnya-atas idzin Allah-tegak juga dan mereka berkesempatan hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Alhamdulillah!

Syekhul Mujahid Abu Muhammad Al-Adnaniy menyatakan bahwa semua ini adalah kemuliaan, khususnya kemuliaan untuk kaum Muslimin. Kemuliaan untuk tidak bersedih dan tidak takut lagi, karena kini ummat Islam telah memiliki Khilafah Islamiyah!

Dunia pasti tercengang dan terguncang dengan deklarasi Khilafah Islamiyah ini. Al-Jazeera memuat artikel berjudul ISIS Deklarasikan Khilafah Islamiyah Baru. Gambar pelengkap artikel tersebut adalah gambar Syekh Abu Bakar Al-Baghdady, yang disebut sebagai kepala Negara Khilafah Islamiyah, sebenar-benarnya Negara Islam.

ISIS dibubarkan dan berganti menjadi Khilafah Islam, dan Khilafah adalah mimpi seluruh umat Islam dalam hatinya dan merupakan harapan dari seluruh Mujahidin, demikian Al-Jazeera mengutip perkataan Syekh Al-Adnany.

AQIDAH ISIS

Syubhat yang paling sering dilontarkan ke tubuh Khilafah Islamiyah (dahulu bernama ISIS atau Daulah Islam Di Iraq Dan Syam) oleh para pendengki Daulah adalah bahwa aqidah Khilafah Islamiyah adalah khawarij, suka meng-takfir sesama kaum Muslimin, menghalalkan tumpahnya darah kaum Muslimin dan memaksa mereka untuk bergabung ke Daulah. Berikut penjelasan tentang bagaimana sebenarnya aqidah Khilafah Islamiyah dari sumber langsung Daulah, yakni dari Amirul Mukminin Abu Umar Al Baghdady Rahimahullah yang kemudian diterjemahkan oleh Ustadz Abu Yusuf Al Indunisiy.

Aqidah Daulah Islam Iraq dan Syam disampaikan secara lisan (rekaman) dan tertulis Oleh Amirul Mukminin Abu Umar Al-Husainiy Al-Quraisiy Al-Baghdadiy Rahimahullah (Amir Pertama Daulah Islam Iraq dan Syam). Selengkapnya mengenai aqidah Khilafah Islamiyah silahkan kunjungi halaman ini : http://al-mustaqbal.net/inilah-aqidah-khilafah-islamiyah/

PENUTUP

Semoga penjelasan mengenai sejarah perkembangan ISIS ini dapat dipahami oleh kalangan awam yang belum mengerti pergerakan Jihad Mujahidin. Kecintaan kita kepada para Mujahidin berawal dari mengertinya kita sejarah perjalanan mereka. Tidak kenal maka tidak sayang, jangan sampai ketidak-pahaman kita justru membuat kita benci kepada para Mujahidin kemudian berbalik memusuhi mereka. Padahal merekalah harapan umat Islam, atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka adalah generasi yang memimpin dunia.

Kita sebagai kaum muslimin yang mengharapkan penerapan Ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasul-Nya selayaknya berdoa untuk kemenangan mereka. Dan mereka tidak akan berhenti sampai bendera Tauhid tertancap di Eliya Al Quds.

Wallahu’alam bish shawab