MUSLIM HARUSLAH BERSATU DALAM SATU KEKUATAN

36

Di dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bersatu, bergabung dalam barisan iman melawan kekufuran (pengingkaran terhadap Allah), menganggap dan mencintai satu sama lain sebagai saudara sendiri, bersikap memaafkan dan memberi perlindungan, serta benar-benar menghindari perpecahan, ketidakutuhan, dan percerai-beraian. Allah berfirman:

 Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi ujung neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran, 3:103)

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapatkan rahmat. (QS. Al-Hujuraat, 49:10)

Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. Dan bersabarlah, sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfaal, 8:46)

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfaal, 8:73)

Dan (bagi) mereka yang diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. (QS. Asy-syuuraa, 42:39)

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaf, 61:4)

Kesemuanya ini hanyalah beberapa ayat yang berhubungan dengan persatuan kaum Muslim. Dari sini, dan dari Al-Qur’an secara keseluruhan, dapat dipahami bahwa adalah sebuah kewajiban agama bagi:

•  kaum Muslim untuk bersatu,
•  untuk terikat satu sama lain sebagai saudara dalam cinta dan kasih sayang,
•  untuk menghindari perselisihan,
•  untuk menjadi seorang sahabat maupun pengasuh bagi yang lain,
•  untuk melindungi dan menjaga satu sama lain di segala keadaan,
•  untuk menasehati satu sama lain,
•  dan untuk terlibat dalam sebuah perjuangan intelektual melawan pengingkaran terhadap Allah, terikat erat satu sama lain seperti batu-batu bata penyusun sebuah bangunan.

Oleh karena itu, melakukan hal yang sebaliknya, dengan kata lain;

•  untuk memecah belah daripada mempersatukan,
•  untuk tidak memperlakukan saudara-saudara Muslimnya dengan cinta dan kasih sayang,
•  untuk tidak bersikap memaafkan, melindungi, dan peduli terhadap saudara-saudara Muslimnya, dan
•  untuk tidak tergabung dengan Muslim lainnya dalam perjuangan intelektual melawan pengingkaran terhadap Allah adalah sebuah dosa.

Jika dunia Islam ingin menegakkan sebuah peradaban kuat, kokoh, dan sejahtera yang membimbing dan menerangi dunia di setiap segi, maka dunia Islam harus bertindak dalam persatuan. Ketiadaan persatuan semacam itu menjadi sebab pertentangan dan perpecahan dunia Islam, tidak adanya kesamaan suara, dan ketiadaan perlindungan bagi kaum Muslim tak berdosa. Tak terhitung perempuan miskin, anak-anak, dan orang tua yang sangat perlu diselamatkan dari penindasan-penindasan di Palestina, Kasmir, Turkistan Timur (tanah air warga Muslim Uighur yang dikuasai Cina), Filipina selatan (tanah air orang-orang Moro Muslim) dan banyak wilayah lainnya. Tanggung jawab atas orang-orang ini berada di pundak dunia Islam sebelum pihak lainnya. Kaum Muslim tidak boleh melupakan sabda Rasulullah (SAW) berikut:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim [lainnya]. Dia tidak mendzalimi atau menerlantarkannya.”

Kenyataan bahwa kaum Muslim belum mampu menciptakan Persatuan Islam yang kuat dan giat merupakan penyebab utama banyaknya permasalahan yang ada saat ini. Ketika sebuah Persatuan Islam Turki (Uni Islam Turki) yang kuat terbentuk, masalah-masalah seperti itu tidak akan timbul ataupun dapat terselesaikan jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan.

Sangatlah wajar terdapat budaya, adat istiadat, dan pemikiran yang beragam di dunia Islam. Apa yang sungguh penting adalah bahwa keragaman ini wajib disatukan di bawah payung iman dan atas dasar saling tenggang rasa dan setia kawan. Perbedaan pemikiran, penerapan, atau sudut pandang adalah wajar dan umum di semua masyarakat. Ajaran Islam mengharuskan kaum Muslim tidak pernah melupakan bahwa mereka semua adalah bersaudara dan bersaudari, terlepas dari perbedaan-perbedaan mereka. Apa pun ras, bahasa, bangsa, atau golongan Islam yang seseorang miliki, semua Muslim adalah bersaudara dan bersaudari. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan semacam itu harus dihargai sebagai sumber kekayaan dan bukan sebagai sumber pertikaian dan perpecahan yang berpeluang terjadi. Pandangan yang keliru seperti itu hanya mengalihkan perhatian seseorang dari masalah yang sebenarnya dan memperlambat tindakan yang diperlukan secara mendesak dan tindakan pencegahan yang penting.

Dalam hubungan timbal balik mereka, iman dan akhlak baik adalah penting, dan bukan ras, asal-usul suku, bahasa, harta, kedudukan, atau jabatan. Cinta di kalangan orang-orang beriman yang tulus berkembang melalui ketakwaan, kesadaran dan cinta sejati karena Allah, serta amal baik dan akhlak baik. Jika orang mengabdikan diri di jalan Allah, mengikutinya di segenap perbuatan dan perilaku mereka, dan berbuat baik dengan harapan meraih ridha dan rahmat Allah, orang-orang beriman lain akan mengasihi dan menghormati mereka. Akibatnya, warna kulit, ras, atau kekayaan mereka tidaklah penting dan tidak ada hubungannya dengan kasih sayang yang dirasakan orang-orang lain terhadap mereka. Patokan yang sama pastilah berlaku bagi hubungan antar-negara Muslim, yang harus didasarkan pada pemahaman Al-Quran.

Jika keadaan-keadaan mencegah mereka dari berbuat demikian, mereka sepatutnya mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

“Apakah masalah itu lebih penting daripada persatuan Islam?”

“Apakah hal itu tidak dapat diselesaikan?”

“Dapatkah dibenarkan untuk berselisih dengan masyarakat Muslim lain daripada bekerja melawan ideologi-ideologi penentang agama?”

Setiap orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan kesadaran nurani akan memahami bahwa hal yang lebih diutamakan adalah menahan diri dari perselisihan tak berkesudahan dan menegakkan sebuah persatuan yang didasarkan pada nilai-nilai Al-Qur’an.

Dunia Islam harus mengesampingkan berbagai perselisihannya dan ingat bahwa semua Muslim adalah “bersaudara” dan “bersaudari” sehingga dapat memberikan teladan yang mencerminkan sosok Islam yang sebenarnya beserta cita-citanya. Persatuan orang-orang yang beriman tersebut adalah karunia dan rahmat dari Allah Yang Mahakuasa. Muslim yang tulus wajib berterima kasih kepada Tuhan kita atas nikmat-nikmat ini serta mematuhi perintah-Nya “untuk tidak bercerai-berai”.

 

Iklan

KEBODOHAN KITA TERHADAP MAKNA KALIMAT TAUHID

syahadat

  Masih terngiang-ngiang dalam ingatan kita ketika dulu zaman masih sekolah SD atau SMP, kita diajarkan bahwa makna kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” adalah “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Inilah makna yang selama ini terpatri dalam hati sanubari kita tanpa sedikit pun kita berfikir tentang kebenaran makna tersebut. Karena memang itulah yang diajarkan oleh guru-guru kita pada saat masih sekolah dulu. Kesalahfahaman ini tidak hanya dialami oleh masyarakat awam, bahkan orang-orang yang dikenal sebagai “cendekiawan” muslim pun salah faham tentang makna kalimat tauhid ini. Buktinya, di antara mereka ada yang mengartikan “laa ilaaha illallah” sebagai “Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar)”.

Untuk Apa Membahas Makna Kalimat Tauhid?

Perlu digarisbawahi bahwa kalimat “laa ilaaha illallah” yang diucapkan oleh seseorang tidak akan bermanfaat kecuali dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya serta mengamalkan konsekuensinya. Hal ini seperti ibadah shalat yang tidak akan sah kecuali dengan memenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak melakukan pembatal shalat. Di antara syarat “laa ilaaha illallah” yang harus dipenuhi adalah seseorang harus mengetahui makna kalimat tersebut.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah” (QS. Muhammad [47]: 19). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga” (HR. Muslim).

Dari dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah tersebut, para ulama rahimahullah menyimpulkan bahwa salah satu syarat sah “laa ilaaha illallah” adalah seseorang mengetahui makna “laa ilaaha illallah” dengan benar.

Tidak Ada “Tuhan” selain Allah

“Tidak ada Tuhan selain Allah” merupakan makna kalimat “laa ilaaha illallah” yang populer di kalangan kaum muslimin. Dalam hal ini, kata “ilah” diartikan dengan kata “Tuhan”. Namun perlu diketahui bahwa kata“Tuhan” dalam bahasa Indonesia memiliki dua makna. Pertama, kata “Tuhan” yang identik dengan pencipta, pengatur, penguasa alam semesta, pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan, dan yang dapat memberikan manfaat atau mendatangkan madharat. Kedua, kata “Tuhan” yang berarti sesembahan. Yaitu sesuatu yang menjadi tujuan segala jenis aktivitas ibadah.

Karena terdapat dua makna untuk kata “Tuhan”, maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” juga memiliki dua pengertian. Pengertian pertama, “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Allah”. Pengertian kedua, “Tidak ada sesembahan selain Allah”. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya kita akan meninjau apakah memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan kedua pengertian tersebut sudah benar serta berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah?

Tidak Ada Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta selain Allah

Memaknai “laa ilaaha illallah” dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” yang berarti “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Allah” adalah pemahaman yang keliru. Berikut ini kami sampaikan beberapa bukti yang menunjukkan kesalahan tersebut.

Bukti pertama, kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Memberi rizki, dan Mengatur alam semesta. Hal ini dapat kita ketahui dari dalil berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab,’Allah’” (QS. Yunus [10]: 31).

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa kaum musyrikin pada zaman dahulu meyakini sifat-sifat rububiyyahAllah, yaitu bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Dzat Yang Memberi rizki, dan Dzat Yang Mengatur urusan alam semesta. Namun, keyakinan seperti itu ternyata belum cukup untuk memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang bertauhid. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun tetap memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka meskipun mereka memiliki keyakinan seperti itu.

Oleh karena itu, apabila kalimat “laa ilaaha illallah” diartikan dengan “Tidak ada pencipta selain Allah”, “Tidak ada pemberi rizki selain Allah”, atau “Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah”, maka apa yang membedakan antara orang-orang musyrik dan orang-orang Islam? Jika orang-orang musyrik itu masuk Islam dengan dituntut mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah” dengan makna seperti itu, lantas apa yang membedakan mereka ketika masih musyrik dan ketika sudah masuk Islam? Bukankah ketika mereka masih musyrik juga sudah mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Dzat Yang Memberi rizki, dan Dzat Yang Mengatur urusan alam semesta?

Bukti kedua, konsekuensi dari makna tersebut berarti kaum musyrik pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang musyrik. Demikian pula, segala jenis perbuatan mereka yang menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala berarti bukan syirik. Hal ini karena konsekuensi dari makna tersebut adalah seseorang tetap disebut sebagai seorang muslim meskipun dia berdoa meminta kepada para wali yang sudah mati, atau berdoa kepada Allah melalui perantaraan (tawassul) orang-orang shalih yang sudah meninggal, atau menyembelih untuk jin penunggu jembatan, selama mereka memiliki keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan, Memberi rizki, dan Mengatur alam semesta. Maka sungguh, ini adalah kekeliruan yang sangat fatal. Karena ternyata makna tersebut akan membuka berbagai macam pintu kesyirikan di tengah-tengah kaum muslimin.

Tidak Ada Sesembahan selain Allah?

Makna kedua dari kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah “Tidak ada sesembahan selain Allah”. Namun makna ini juga tidak benar, meskipun secara bahasa (Arab) kata “ilah” memiliki makna “al-ma’bud”(sesembahan). Namun sebelumnya, perlu kita cermati bersama bahwa kalimat “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, artinya sama dengan “Semua sesembahan adalah Allah”. Contoh lain adalah ketika kita mengatakan, ”Tidak ada polisi kecuali memiliki pistol”. Maka artinya sama dengan, ”Semua polisi memiliki pistol”.

Meskipun makna “ilah” adalah “ma’bud” (sesembahan), namun memaknai “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan selain Allah” tetap saja tidak tepat. Hal itu dapat ditunjukkan dari bukti-bukti berikut ini.

Bukti pertama, makna tersebut tidak sesuai dengan kenyataan atau realita yang sebenarnya. Bagaimana mungkin kita memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan selain Allah”, padahal realita menunjukkan bahwa terdapat sesembahan yang lain di samping Allah? Buktinya, kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sesembahan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah matahari dan bulan, serta ada pula yang menyembah batu dan pohon. (Lihat Syarh Al Qowa’idul Arba’, hal. 25).

Bahkan dalam banyak ayat pula Allah Ta’ala menyebut sesembahan orang-orang musyrik sebagai “ilah”. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan” (QS. Yasin [36]: 73). Kesimpulannya, memaknai “laa ilaaha illallah” dengan“tidak ada sesembahan selain Allah” adalah tidak tepat karena realita menunjukkan bahwa di dunia ini terdapat sesembahan-sesembahan yang lain selain Allah Ta’ala. Bahkan Allah sendiri mengakui bahwa memang terdapat sesembahan selain Dia.

Bukti kedua, kalimat “tidak ada sesembahan kecuali Allah” menimbulkan konsekuensi yang sangat berbahaya. Karena konsekuensi kalimat itu menunjukkan bahwa semua sesembahan orang musyrik adalah Allah.

Kekeliruan makna “tidak ada sesembahan kecuali Allah” juga dapat dilihat dari konsekuensi yang ditimbulkan oleh makna tersebut. Karena kalimat “tidak ada sesembahan kecuali Allah”, berarti “semua sesembahan yang ada di alam semesta ini adalah Allah”. Maka Isa bin Maryam adalah Allah, karena dia adalah sesembahan orang-orang Nasrani. Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Latta, Uzza, dan Manat semuanya adalah Allah, karena mereka adalah sesembahan kaum musyrikin pada zaman dahulu. Para wali yang dijadikan sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah adalah Allah juga, karena mereka merupakan sesembahan para penyembah kubur.

Maka jelaslah, bahwa makna “tidak ada sesembahan selain Allah” menimbulkan konsekuensi yang sangat batil. Konsekuensi pertama, Allah itu tidak hanya satu, namun berbilang sebanyak jumlah bilangan sesembahan yang ada di muka bumi ini. Sedangkan konsekuensi batil yang kedua, bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan sesembahan-sesembahan tersebut (aqidah wihdatul wujud atau manunggaling kawula-Gusti).

Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang Tepat

Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah berkata, ”Makna kalimat “laa ilaaha illallah”adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat“laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi” (Lihat Ma’arijul Qobul, 2/516).

Berdasarkan penjelasan beliau rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama, kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya, “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah itulah (sesembahan) yang batil” (QS. Luqman [30]: 31).

Kedua, dari sisi kaidah bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat difahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada satu kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)

Demikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’”.

Bagaimana Islam memandang Begal Motor ????

Antar Istri ke Kantor, Andi Tewas Dibunuh Begal Motor

Kondisi mencekam dan hilangnya rasa aman, masih menghantui masyarakat. Pasca pembakaran begal dan penangkapan komplotan begal oleh pihak keamanan. Kondisi tidak aman ini juga memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk berhati-hati. Terlebih bagi mereka yang sering keluar malam dan melewati tempat yang sering terjadi tindak kejahatan. Fenomena ini dimanfaatkan pula untuk membuat komunitas #pulangkonvoi, mempersenjatai diri, dan membekali dengan ilmu beladiri.

Harus diakui bahwa tinjauan retrospeksi memiliki motif ajakan bahkan boleh dipahami juga sebagai perintah yang harus diwujudkan bersama. Sebagaimana yang diketahui oleh sebagian besar masyarakat dewasa ini, maraknya kasus pembegalan di beberapa tempat / locus delictie yang dilakukan secara tersistematis dan dilakukan oleh pelaku yang usianya relatif sangat muda. Penegak hukum seolah – olah tertatih – tatih dalam mengikuti langkah – langkah sistematis yang dilakukan pelaku Begal. Jika benar demikian maka nantinya ketika “musim” begal sudah berlalu, penegak hukum akan menjadi (lagi – lagi) pahlawan Negara. Namun tidak dapat dipungkiri tetap saja kejahatan yang lebih besar tidak terungkap. Mengapa itu semua terjadi? Perkembangan hukum dewasa ini khususnya di Indonesia, dari berbagai kenyataan peristiwa hukum juga fakta penegakan hukum, belum mampu memberantas secara tuntas. Sistem aturan yang adaharapannya menjadi perisai kejahatan, namun apa daya itu hanya tinggal kenangan semata.

Kerusakan wajah dunia hukum dan perilaku naif praktisi hukum di Negara Indonesia, menambah sederet pekerjaan rumah (PR) bagi Kapolri yang akan terpilih. Jangan sampai semangat pihak keamanan dalam memberantas kejahatan diliputi politisasi untuk menaikan citra polisi. Ingatlah tugas pihak kemananan tidak sampai di sini, ada tugas berkelanjutan demi keamanan negeri. Apa sebenarnya yang menjadi pangkal masalah terjadinya kejahatan yang sedang “panas” diberitakan saat ini? Hal inilah yang menjadi PR bersaa untuk mencari solusi terbaik.

Begal

Begal adalah istilah yang digunakan masyarakat tradisional yang kemudian berkembang menjadi istilah terhadap pelaku kejahatan yang mencegat korban dan melakukan perampasan harta si korban. Tidak jarang begal menggunakan senjata tajam bahkan senjata api dalam memudahkan aktifitasnya. Uraian redaksi pada berita-berita tentang Begal, dapat diketahui selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan moral yang dipahami secara Universal di dunia ini sebagai ungkapan pentingnya keamanan dan ketertiban umum.Padahal ada upaya tersistematis pula yang harus dipahami atas lahirnya istilah Begal di tanah air.

Sebagai masyarakat hukum yang tentunya mendefinisikan produk hukum dengan bahasa hukum, dalam WVS (Wetboek van Strafrecht) atau yang dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak ada pengertian dalam ketentuan umumnya yang menggunakan istilah Begal. UU Hukum Pidana dalam mengklasifikasikan kejahatan adalah berdasarkan jenis kejahatannya. Jika ditilik dalam KUHP maka begaltermasuk dalam katagori Pencurian. Secara khusus Begal yang selalu diidentikan dengan kekerasan atau mengambil barang yang bukan haknya baik sebagian maupun keseluruhan yang didahului, diikuti atau disertai kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang dengan maksud mempersiapkan dan mempermudah pencuriannya. Dalam hal tertangkap tangan maka persiapan yang dilakukan pelaku adalah dimaksudkan untuk melarikan diri sendiri atau peserta lain atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya itu. Hal tersebut diaturKUHP Pasal 365 yang ancaman hukumannya adalah mati atau seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun apabila menyebabkan korban luka berat atau meninggal dunia.

Bersandar pada pemahaman sosio-religius begal di Indonesia tidak pernah menemukan titik terang karena seiring dengan “canggih”nya hukum, maka Begal-pun juga memper”canggih” aksinya. Karena fakta inilah tinjauan sosio-religius akan mengungkap betapa aspek religius telah menghilang dalam penegakan hukum sehingga penegakannya dapat dikatakan mirip debu dan sapu. Manakala sapu itu menghilangkan debu, alam tidak mungkin tinggal diam dengan menghentikan debu-debu lain sebagai “klient” sebuah sapu. Solusi mengatasinya tidak boleh tidak harus bersandar pada sesuatu yang fitrah dan alami pada diri manusia. Dan manusia sebagaimana diketahui bersama adalah makhluk yang lemah, terbatas dalam aktifitasnya dan butuh kepada yang lain dalam hidupnya. Sedangkan Begal adalah bukti nyata hilangnya aspek religius dalam proses penegakan hukum di tanah air. Dengan hilangnya aspek religius tersebut bagaimana mungkin masyarakat mendambakan keamanan dan ketertiban yang hakiki sebagai wujud masyarakat berperadaban mulia.

Peristiwa penangkapan dan pemberantas begal telah menjadi indikasi politis pencitraan aparat hukum dan terbukti menjadi istilah yang ditakuti yang membayangi di benak masyarakat. Disadari produk hukum Indonesia yang memang berasal dari buah pemikiran manusia tak mampu menyelesaikan masalah. Karena produk hukum itu berdasr pada akal manusia dan selera manusia yang terbatas. Maka di sinilah dibutuhkan hukum yang memang bersumber dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah keagungan hukum Islam. Allah Swt sebagai Dzat Pencipta dan Pengatur kehidupan mengetahui seperangkat aturan yang diperlukan manusia. Karena itu sungguh naif jika membuat hukum tanpa menyertakan sumber quran dan sunnah.

Jika masyarakat menengok sejarah kebelakang, umat hidup damai sesuai fitrah alamiahnya yaitu manusia! Bukan makhluk berpenampilan manusia yang beraktifitas seperti binatang yang tidak berakal. Saling makan memakan, sakit menyakiti, bunuh membunuh yang membuat harga manusia menjadi tidak lebih mahal dari 1 gram emas bahkan kurang dari itu. Orang-orang yang tidak satu aqidah (kafir) dalam Islam disebut (ahlu-Dzimmi) yang tetap aman dalam pengayoman pemimpin Universal (al-Khalifah) hanya diganti dengan membayar pajak saja.

Perbandingan hukum manusia vs Islam

Begal sebagaimana dalam pengertian Pidana hakikatnya adalah pencurian dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Persoalannya adalah apakah peraturan dalam KUHP Indonesia yang diwariskan oleh Negara Belanda tersebut telah secara total dan menyeluruh sebagai perangkat pengaman masyarakat? Belum! Bahkan tidak akan pernah peraturan yang sedemikian itu akan menjadi pengaman masyarakat. Mengapa? Jelas sekali karena manusia yang hakikatnya lemah, terbatas dan membutuhkan yang lain tidak akan pernah sanggup mengatur manusia itu sendiri. Jika berbicara persoalan daya tahan, ibarat kendaraan bermotor yang pada intinya terbuat dari bahan yang kuat, berusia lebih panjang ketimbang yang mengendarainya tidak pernah mungkin bisa membuat manual booknya sendiri. Bagaimana mungkin manusia mampu membuat efek jera pada Begal jika hukumannya hanya mengurung atau membatasi aktifitas dalam penjara seumur hidup apalagi selama waktu tertentu maksimal 20 tahun? Sedangkan hukuman mati dijatuhkan apabila Begal dalam aktifitas pencurian dengan kekerasan menyebabkan kematian korbannya. Itupun jika diberikan pengampunan oleh Presiden dapat batal hukuman matinya.

Dalam praktik penegakan hukum bahwa peraturan Hukum Pidana tidak mampu memberikan efek jera yang jelas kepada pelaku kejahatan. Bandingkan dengan konsep potong tangan yang dimiliki oleh Islam. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al- Maidah ayat 38 yang berbunyi,

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Dengan menjalankan hukum Allah tersebut, manusia tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk “menggodok” Rancangan-rancangan peraturan hukum Pidana, tidak perlu kesulitan mencari bentuk sanksi yang tentunya diharapkan menjadi sarana efek jera bagi pelaku kejahatan tersebut, khususnya kejahatan pencurian dengan kekerasan atau ancaman kekerasan yang setempat dikenal dengan istilah Begal.

Begal dalam Konsep Islam adalah Pencuri yang dikenakan hukum tangan kepada seseorang yang sudah baligh (dewasa) dan berakal (tidak gila atau hilang ingatan). Hukum potong tangan dikenakan bagi orang yang mengambil barang dengan tujuan untuk dimiliki. Begitu pula pencuri mengambilnya dalam keadaan darurat atau butuh. Begitu pula barang yang dicuri adalah barang bernilai atau berharga. Mencuri sendiri bentuknya adalah secara diam-diam, berbeda dengan begal yang sifatnya dengan terang-terangan memaksa di jalanan, Begal motor masuk dalam kategori Sariqoh Kubro.Hukuman untuk pencurian biasa adalah dengan memotong pergelangan tangan kanan jika dilakukan pencurian pertama kali. Jika berulang kedua kalinya, maka yang dipotong adalah pergelangan kaki kiri. Jika berulang sampai tiga kiri, maka akan dikenakan hukuman penjara. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Islam telah membagi hukuman bagi pelaku begal atau kejahatan pencurian dengan kekerasan dalam empat hukuman sesuai dengan berat dan ringannya suatu tindak kejahatan yang dilakukannya, yaitu :

  1. Dibunuh dan disalib, jika mengambil harta dan melakukan pembunuhan;
  2. Dibunuh saja, jika hanya membunuh dan tidak mengambil harta;
  3. Dipotong kaki dan tangan bersilang, apabila hanya mengambil harta dan tidak membunuh;
  4. Dipenjarakan. Apabila hanya menakut – nakuti saja.

Tujuan diberlakukannya hukuman dalam Islam ini adalah demi memelihara, menjaga agama, nyawa, akal, keturunan dan harta manusia.

Anehnya masih saja masyarakat yang takut dengan kejahatan pelaku Begal sekaligus menganggap Islam adalah kejam, melanggar HAM, terbelakang dan sangat primitif dalam penerapan hukuman bagi orang yang bersalah. Padahal masyarakat sudah barang tentu menghendaki keamanan dan ketertiban Universal untuk memudahkan kehidupannya sendiri. Belum lagi lebih adil mana pelaku Begal yang dibakar hidup-hidup sebagai contoh produk hukum manusia secara spontan dibandingkan dengan hukuman dalam Islam,

Lagi – lagi karena mengandalkan keinginannya sendiri dan mengedepankan emosi serta nafsu sesaat saja. Sebagian dari mereka juga hanya memperhatikan kepentingan kelompok kecil yang bersalah dan yang berhak atas hukuman tersebut serta menutup mata dan telinga mereka terhadap kepentingan masa depan masyarakat banyak dan orang- orang yang telah dirugikan dari Begal atau pencurian dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Perlu di ingat, bahwa harta dan nyawa adalah dua hal yang sangat berharga bagi manusia. Sehingga, dalam hal ini perhatian Islam kepada keduanya sangatlah besar, begitu pula perintah untuk menjaganya.

Oleh karena itu, hukum mana yang lebih baik daripada hukum Allah bagi mereka yang berakal. Peristiwa kejahatan apa pun itu, hendaknya menyadarkan kepada kita semua bahwa kita butuh sistem handal untuk mengatasi begal dan kejahatan lainnya.

Hadist Palsu Tentang Batu Akik…

   Zaman batu. Apakah istilah ini bisa mewakili fenomena baru di negeri ini? Entahlah. Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada masa di mana orang-orang di negeri ini menggandrungi batu akik. Mereka pun berlomba-lomba mendapatkan batu akik secantik mungkin untuk kemudian dikenakan. Kebiasaan ini pun dimanfaatkan oleh sebahagian orang untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Memang pada asalnya jual beli batu akik adalah mubah, dan memang di balik batu akik ini ada rupiah yang menanti. Melalui banyaknya pedagang batu akik inilah masyarakat mulai tertarik mengoleksinya. Mula-mula hanya sekedar iseng, namun lambat laun termasuk penggandrungnya.

Namun permasalahannya adalah ternyata kenyataan di lapangan, di balik batu akik juga ada mudharat dan fitnah (keburukan) yang dijumpai. Diantaranya keyakinan para penjual dan pemakai akik bahwa benda tersebut dapat memperlaris dagangan. Terkadang pedagang tidak segan-segan mendatangkan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan keutamaan batu akik sehingga membuat dagangannya banyak diminati pelanggan. Oleh karena itu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengatakan,

إِنَّ التُجَّارَ يُبعَثُونَ يَومَ القِيَامَةِ فُجَّارًا ، إِلَّا مَن اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang jahat kecuali yang bertaqwa pada Allah, bersikap baik, dan jujur.” (HR At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. At-Tirmidzi mengatakan tentang hadits tersebut, “Hasan shahih.” Sementara Al-Hakim mengatakan, “Sanadnya shahih.” Dan komentar tersebut disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Dalam hadits lain disebutkan,

إِنَّ التُجَّارَ هُمُ الفُجَّارَ ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ أَوَ لَيسَ قَد أَحَلَّ اللَّهُ البَيعَ ؟ قَالَ : بَلَى ، وَلِكِنَّهُم يُحَدِّثُونَ فَيَكذِبُونَ ، وَيَحلِفُونَ فَيَأثَمُونَ

Sesungguhnya para pedagang itu adalah penjahat”.

“Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?,” tanya seseorang.

“Benar,” jawab beliau, “Namun mereka berucap dusta dan bersumpah sehingga berdosa” (HR Ahmad dan Al-Hakim,Al Hakim berkata: “Sanadnya shahih”. Penilaian beliau disetujui oleh Adz Dzahabi).

Sedangkan riwayat-riwayat yang membicarakan tentang keutamaan batu akik adalah banyak jumlahnya namun  sama sekali tidak ada yang valid, di antaranya beberapa riwayat berikut:

Riwayat 1

تحتمو بالعقيق فإنه مبارك

“Pakailah akik karena ia membawa berkah.”

Haidts tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Al-Walid Al-Madani oleh Al-Muhamili dalam Al-Amali (II/41), Al-Khathib dalam Tarikh-nya (II/251), serta Al-‘Uqaili dalam Adh-Dhu’afa’ no. 466.

Ibnu ‘Adi meriwayatkannya dari jalur Ya’qub bin Ibrahim Az-Zuhri. Keduanya dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Aisyah. Dalam Al-Mudhu’at (I/423), Ibnul Jauzi mengatakan, “Ya’qub suka berdusta. Ia memalsukan hadits”. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani memasukkannya dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah no. 226.

Riwayat 2

تحتموا بالعقيق فإنه ينفي القر

“Kenakanlah cincin, sebab ia dapat menghilangkan kefakiran.”

Al-‘Ajluni dalam Kasyf Al-Khafa’ (I/299-300, hadits no. 958) mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, dari Anas. Ibnu ‘Adi mengatakan, bahwa hadits tersebut batil. Di dalam perawinya terdapat Al-Husain bin Ibrahim yang tidak diketahui identitasnya. Makanya Ibnul Jauzi menghukuminya sebagai hadits palsu dan disepakati oleh As-Suyuthi.”

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah no. 227.

Riwayat 3

تحتموا بالعقيق فإنه أنجح للأمور، و اليمنى أحق بالزينة

Bercincinlah karena ia dapat membantu menyukseskan urusan. Sedangkan yang lebih pantas dihiasi ialah jari tangan kanan.”

Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah no. 228, “Palsu. Diketengahkan oleh Ibnu ‘Asakir (IV/291/1-2) saat menyatakan biografi Al-Hasan bin Muhammad Ibnu Ahmad bin Hisyam As-Sullami melalui sanadnya pada Ja’far Muhammad bin ‘Abdullah Al-Baghdadi: Muhammad bin Al-Hasan telah bercerita padaku, Humaid Ath-Thawil telah bercerita pada kami, dari Anas secara marfu’.

Al-Hafihz Ibnu Hajar dalam Lisan Al-Mizan (II/269) berkomentar, ‘Tidak ragu lagi bahwa itu palsu. Tapi aku tak mengetahui siapa yang memalsukannya’. Pernyataannya ini disepakati oleh As-Suyuthi dalam Al-Laali Al-Mashnu’ah (II/273).”

Riwayat 4

تختموا بالخواتيم العقيق فإنه لا يصيب غم ما دام عليه

“Hendaklah kamu bercincin yang bermata akik karena selama kamu mengenakannya kamu tidak akan tertimpa kesedihan.”

Dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah no. 229, Syaikh Al-Albani menulis, “Palsu. Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnad-nya (II/32) dari jalur Mihrawih Al-Qazwaini. Dalam sanadnya terdapat Dawud bin Sulaiman Al-Ghazi Al-Jurjani. Ibnu Ma’in menilainya pendusta.

Adz-Dzahabi mengatakan, “Orang tua pendusta. Ia memiliki naskah palsu dari ‘Ali bin Musa Ar-Ridha. Kataku, hadits ini terdapat dalam naskah tersebut. Orang yang melihat Al-Maqashid Al-Hasanah dan Kasyf Al-Khafa’ akan merasa jelas”.

Riwayat 5

لو اعتقد أحدكم على بحجر لنفعه

“Kalaulah seroang di antara kalian ada yang meyakini terhadap suatu batu, niscaya akan memberinya manfaat.”

Syaikh ‘Ali Al-Qari mengatakan dalam Al-Maudhu’at hlm. 66 menghukumi hadits ini palsu. Sementara itu Ibnul Qayyim menyatakan bahwa riwayat tersebut bukan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, akan tetapi ucapan para penyembah berhala yang percaya pada kekuatan ghaib benda-benda, termasuk batu. Sedangkan Ibnu Hajar mengungkapkan, hadits tersebut tidak ada asal-usulnya.

Demikianlah beberapa riwayat-riwayat palsu yang berkaitan dengan cincin dan akik. Kiranya tidak ada yang sah sama sekali. Jadi menurut kaedah yang dibuat para ulama ini, seluruh hadits yang berkaitan dengan batu, dapat langsung kita hukumi sebagai hadits palsu.

Tentu saja riwayat-riwayat ini jika diyakini hanya akan merusak aqidah seseroang. Sebab memang bertolak belakang dengan hadits-hadits shahih lainnya, seperti hadits ‘Imran bin Hushain –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melihat seseorang yang pada tangannya terdapat gelang. Beliau mengatakan, “Apa ini?”

“Ini untuk menolak demam,” jawab orang itu.

Sabdanya, “Lepaskan. Sebab itu hanya akan membuatmu bertambah demam. Dan apabila kamu mati sedangkan gelang itu masih ada padamu, kamu tidak adan beruntung.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya).

***