Sudahkah Engkau Mempersiapkan Hari Esok?

Sudahkah engkau mempersiapkan diri untuk hari esok?

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Sudahkah Engkau Mempersiapkan Hari Esok?

Qatadah mengatakan bahwa bahwa hari kiamat itu dekat. Jadi hari esok yang dimaksud dalam ayat adalah kiamat. (Tafsir Ath Thobari, 14: 65).

Ibnu Jarir Ath Thobari menafsirkan ayat di atas, “Lihatlah apa yang akan terjadi di hari kiamat kelak dari amalan-amalan yang diperbuat manusia. Apakah amalan shalih yang menghiasi dirinya ataukah amalan kejelekan yang berakibat jelek di akhirat?” (Idem).

Introspeksi Diri

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Haasibu anfusakum qobla an tuhaasabu (artinya: hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab). Lihatlah amalan shalih apa yang telah kalian persiapkan sebagai bekal untuk hari akhirat dan menghadap Allah Rabb kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 235).

Jadikan Akhirat Sebagai Tujuan

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman untuk memenuhi hal-hal yang dapat mewujudkan iman dan takwa, baik amalan yang dilakukan secara tersembunyi ataukah terang-terangan dalam setiap keadaan. Hendaklah mereka memperhatikan perintah, syariat dan batasan-batasan Allah.

Hendaklah mereka perhatikan kebaikan dan keburukan yang mereka akan peroleh kelak. Hendaklah mereka memikirkan apa buah yang diperoleh dari amalan mereka kelak di hari kiamat. Apakah akan menuai hasil yang baik ataukah malah akan membahayakan karena kejelekan yang dilakukan.

Jika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan di hadapannya dan jadi tambatan hati, terus bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan menuju akhirat. Bersungguh-sungguhlah dengan melakukan banyak amalan yang dapat mengantarkan pada akhirat. Lalu bersihkanlah jalan tersebut dari berbagai duri dan rintangan.

Jika mereka pun yakin, Allah itu Maha Tahu terhadap apa yang mereka kerjakan, Allah Maha Tahu terhadap apa yang mereka sembunyikan. Allah tidak mungkin lalai dari memperhatikan mereka. Dari sini, semestinya kita semakin serius dan sungguh-sungguh dalam beramal.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 853).

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah jadikan akhirat sebagai tujuan. Begitu pula jika kita diberi karunia materi dan rezeki yang melimpah, jadikanlah itu sebagaimana perantara menuju kebaikan dan bekal menuju alam akhirat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7: 213)

Semoga kita semakin memperhatikan amalan kita sebagai bekal di akhirat kelak.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Tafsir Ath Thobari (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran), Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ At Tirmidzi, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Iklan

Istri yang Taat Suami Dijamin Surga

  Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah jika seorang wanita beriman itu meninggal dunia lantas ia benar-benar memperhatikan kewajiban terhadap suaminya sampai suami tersebut ridha dengannya, maka ia dijamin masuk surga. Bisa juga makna hadits tersebut adalah adanya pengampunan dosa atau Allah meridhainya. (Lihat Nuzhatul Muttaqin karya Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, hal. 149).

Begitu pula ada hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dengan ketaatan seorang istri, maka akan langgeng dan terus harmonis hubungan kedua pasangan. Hal ini akan sangat membantu untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan istri yang taat suami itulah yang dianggap wanita terbaik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Sebagian istri saat ini melupakan keutamaan taat pada suami. Sampai-sampai menganggap ia harus lebih daripada suami sehingga dialah yang mesti ditaati karena karirnya lebih tinggi dan titelnya lebih mentereng. Wallahul musta’an.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sebongkah Hadiah Terindah

   Kapan pertama kali Anda merasa menjadi orang yang paling beruntung?

Boleh lah kali ini Anda luangkan sedikit waktu sembari berbagi satu-dua keceriaan dengan menjawab satu pertanyaan di atas. Siapa tahu banyak orang terinspirasi, siapa tahu pula banyak mala rindu terobati. Anda hanya perlu luangkan sedikit waktu Anda untuk sekedar merefresh masa lalu Anda. Jika Anda mampu menjawabnya, bersyukur lah, itu berarti Anda pernah menjadi orang bahagia. Bahkan, jika Anda resapi lebih jauh, ia tidak hanya sekedar pengingat suatu peristiwa. Tidak pula ia sekedar mengenang sebuah momen spesial. Lebih dari itu, ia ibarat alarm untuk titik awal sebuah kebangkitan. Nostalgia akan sebuah kenangan yang tak terlupa dan tak ingin dilupa.

Jawab lah pertanyaan tersebut sejujur-jujurnya. Renungkan lah baik-baik, dan pilih lah satu saja di antara sekian momentum yang layak Anda sematkan kata paling sebelum kata indah.

Barangkali, di antara kita ada yang antusias menceritakan pengalamannya meraih medali emas olimpiade fisika tingkat internasional. Berkat prestasinya itu, ia mendapatkan gelontoran dana yang melimpah, dikenal seantero negeri, bahkan ditawari melanjutkan studi di luar negeri. Boleh jadi, ada juga yang mengisahkan peristiwa tak terlupakan ketika dirinya menjadi satu-satunya penumpang yang selamat dari sebuah kecelakaan lalu lintas yang merenggut banyak korban jiwa. Atau kisah kepahlawanannya ketika berhasil menyelamatkan anak SD yang terseret arus sungai, dll. Sederet kisah sarat prestasi nan heroik terngiang-ngiang manis di benak masing-masing kita yang seringkali mampu menyalakan semangat yang kini mulai redup seiring bertambah usia.

Namun, di saat orang-orang sangat antusias mendemonstrasikan kenangan paling indah selama hidupnya, justru beberapa saudara kita terlihat diam, kepalanya mulai tertunduk saat pertanyaan tersebut dilontarkan. Mulutnya terkunci. Entah dari mana ia harus mulai menjawab pertanyaan yang telah membuka lembaran-lembaran masa lalunya. Hatinya ingin berontak, menumpahkan segala uneg-unegnya yang lama terpendam. Derasnya gejolak batin mengharu biru bersama dengan ekspresi bahagianya. Dari sekian kenangan, hanya satu yang menancap kuat di sanubarinya. Tiba-tiba saja matanya terpejam, dan buliran air mata mulai membasahi wajahnya. Ada apa gerangan? Mimik wajahnya mengisyaratkan ada sesuatu yang besar ingin ia ungkapkan.

Adalah sebongkah hadiah terindah dari Allah berupa hidayah telah mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia sekarang adalah orang yang kemarin baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat setelah sekian tahun menjadi pendeta. Ia sekarang adalah orang yang kemarin baru saja bertaubat, setelah ia habiskan hampir seluruh umurnya menyebarkan aliran sesat. Ia sekarang adalah orang yang kemarin baru saja melepas jabatannya sebagai manager sebuah bank demi menjauhi riba. Ia sekarang adalah orang yang kemarin baru pertama kali merasakan nikmatnya sholat berjamaah dan duduk di majelis ilmu. Nikmatnya mengenal jalannya orang-orang shalih. Saat itulah ia pertama kali merasa paling beruntung.

Ia lah orang yang merasa hidupnya selama ini berada dalam kesia-kesian tanpa tuntunan. Ia sadar betul kalau lah bukan karena hidayah dari Allah, siapakah yang menyelamatkannya dari kesyirikan dan ketergelinciran. Apalah artinya hidup jika jiwa kosong dari iman. Ia menyadari bahwa hidayah lebih mahal dari dunia dan seisinya. Ia juga menyadari bahwa hidayah tak ada gantinya.

Walhasil, lika-liku menjemput hidayah mampu mengingatkan betapa berharganya sebongkah hadiah terindah. Awal dari sebuah perjumpaan menuju pintu pembuka segala kenikmatan abadi. Bila kini Kau sadari, masih adakah nikmat Tuhanmu yang Kau ingkari?

Keluar Dari Kegelapan Dunia Hitam, Mau?

Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Apakah Anda termasuk  yang memiliki catatan kelam berikut ini:

Pernah akrab dengan dunia perdukunan dan ingin bertaubat?

Getol dengan bid’ah dan ingin berhenti total?

Ikut aliran sesat dan ingin bermanhaj yang haq?

Pernah berzina dan ingin keluar darinya?

Sering durhaka dengan orangtua dan kini menyesal, ingin berbakti kepadanya?

Memiliki kebiasaan mencuri dan ingin berubah?

Berkarakter pemarah dan ingin menjadi penyabar?

Awam tentang agama ini dan ingin berilmu?

Siapapun kita dan apapun status sosial kita, pastilah memiliki kekurangan atau kelemahan. Seorang muslim yang baik, tentu ingin berubah menjadi lebih baik. Hari ini lebih baik dari kemarin, hari esok lebih lebih baik dari hari ini.

Solusi dari setiap problematika kehidupan

Apapun bentuk kehidupan yang ada, baik kehidupan individu, keluarga, masyarakat maupun kehidupan bernegara pastilah memiliki problematika kehidupan dan butuh solusi yang terbaik. Bagaimana solusinya? Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (An-Nahl:89).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Telah dijelaskan kepada kita di dalam Alquran ini seluruh ilmu dan segala perkara’”.

Mujahid berkata, Seluruh halal dan haram. (Berkata Ibnu Katsir) ucapan Ibnu Mas’ud lebih umum dan lebih luas cakupannya karena sesungguhnya Al-Quran mencakup seluruh ilmu yang bermanfaat berupa berita yang telah berlalu, ilmu yang akan datang, dan hukum seluruh perkara yang halal dan yang haram, serta segala hal yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia dan agama mereka, maupun kehidupan dan akherat mereka(Tafsir Ibnu Katsir : 3/224).

Allah Tabaraka wa Ta’ala menjelaskan bahwa petunjuk Alquran adalah petunjuk yang paling lurus dan paling sempurna,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS. Al-Israa`:9).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata, Yaitu paling lurus dan paling tinggi, baik dalam aqidah, amal maupun akhlak, maka barangsiapa yang mengambil petunjuk dari sesuatu yang diserukan Al-Quran, niscaya ia menjadi manusia yang paling sempurna, paling lurus dan paling mendapatkan hidayah dalam seluruh perkara(Tafsir As-Sa’di, hal. 521).

Jadi apapun masalah Anda, pelajari Al-Quran dan terapkanlah. Kegelapan apapun yang menimpa seseorang, pasti di dalam Al-Quran ada solusinya.

Perhatikanlah fiman Allah berikut ini,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Ibrahim:1).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallamuntuk memberi manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk, dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah :{بِإِذْنِ رَبِّهِمْ }, yang artinya, “dengan izin Tuhan mereka”, maksudnya tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka.

Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Quran dengan berfirman  {إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} yang artinya,“(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”, maksudnya yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya yang mencakup atas ilmu yang haq dan pengamalannya. Dalam penyebutan { العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal.478).

Catatan :

Bahwa mengambil petunjuk Al-Quran sebagai solusi bukan berarti meninggalkan As-Sunnah, bahkan justru terkandung di dalam makna mengambil petunjuk Al-Quran adalah mengambil petunjuk As-Sunnah karena di dalam Al-Quran, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk taat kepada Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. Al-Hasyr: 7).

Kesimpulan

Jadi jika Anda ingin :

keluar dari kegelapan syirik menuju kepada cahaya tauhid,

keluar dari kegelapan bid’ah menuju kepada cahaya sunnah,

keluar dari kegelapan maksiat menuju kepada cahaya keta’atan,

keluar dari kegelapan kebodohan menuju kepada cahaya ilmu,

keluar dari kegelapan akhlak yang buruk menuju kepada cahaya akhlak yang baik,

maka bacalah Alquran, pahami dan amalkanlah.

Dua Jenis Hujan Yang Bermanfaat

1425603_466772800110177_1774749034_nAda dua jenis hujan yang bermanfaat, hanya Allah yang mampu menurunkannya. Kedua jenis hujan tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Pertama. Hujan berupa wahyu yang turun dan merasuk dalam hati. Allah Ta’ala berfirman :

{ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ}

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam,  dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syua’ara : 192-195)

Tidak akan ada kehidupan hati dan kebaikan padanya kecuali dengan turunya hujan ini, yakni berupa wahyu yang Allah turunkan dan sekaligus merupakan kalam-Nya yang agung. Allah Ta’ala berfirman

{لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ}

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. “ (Fushilat:42)

Kedua. Hujan yang turun ke bumi berupa air.  Allah Ta’ala berfirman

{ وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ}

Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura : 28)

{ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ}

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? “ (QS. Al Waqi’ah : 68-69)

Allah Ta’ala telah menyebutkan dua jenis hujan ini berulang kali pada banyak tempat dalam kitab-Nya. Di antaranya dalam firman-Nya :

{ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ }

Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang lalu hati mereka menjadi keras. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya. “ (QS. Al Hadid: 16-17)

Maksud ayat ini, sebagaimana Allah telah menghidupkan tanah yang mati dengan turunnya air hujan, maka demikian pula Allah menghidupkan hati yang mati dengan turunnya wahyu. Keduanya adalah sebab kehidupan. Air merupakan sebab hidupnya badan, sementara wahyu adalah sebab hidupnya hati. Keadaan hati bersama wahyu seperti keadaan tanah terhadap air hujan. Sebagaimana pula disebutkan dalam shahihain, dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ »

Permisalan apa yang Allah utus kepadaku berupa petunjuk dan ilmu adalah bagaikan ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran Allah yang aku diutus dengannya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Demikian pula permisalan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya (untuk menerima wahyu Allah), dia tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya(HR. Bukhari dan Muslim)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan kepada kita dua jenis hujan yang bermanfaat ini.

Tips Ibnul Qayyim Dalam Menghadapi Takdir Yang Buruk

   Bukanlah yang dimaksud dengan kata takdir dalam frasa “takdir buruk” pada judul di atas adalah perbuatan Allah menakdirkan suatu peristiwa. Karena Allah Maha Indah, baik dzat, nama, sifat, maupun perbuatan-Nya. Allah Maha Indah ditinjau dari segala sisi. Tidak ada satupun keburukan yang terdapat pada diri Allah. Tidak boleh satupun keburukan disandarkan kepada dzat, nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.

Apakah yang Dimaksud dengan Takdir Buruk?

Maksudnya adalah peristiwa pahit yang Allah takdirkan terjadi pada makhluk-Nya. Dalam menjalani kehidupan terkadang seorang mukmin menghadapi takdir yang baik, yaitu peristiwa yang menyenangkan dirinya. Sebagai contoh, seorang menikah, berhasil melakukan kebaikan, dan mendapatkan keuntungan dalam bisnisnya yang halal. Ini adalah takdir baik dan menggembirakan.

Tips Menghadapi Takdir Yang Buruk

Namun, terkadang dalam hidupnya seorang mukmin harus menghadapi takdir yang buruk, misalnya sakit keras, ibunya meninggal, dizalimi temannya, dan disebarkan fitnah buruk tentang dirinya (difitnah) sampai merasa sakit hati. Nah, bagaimana sikap seorang mukmin yang baik?

Tips 1

Di dalam kitab Al-Fawaid, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur

إذا جرى على العبد مقدور يكرهه فله فيه ستّة مشاهد

Jika sebuah takdir yang buruk menimpa seorang hamba, maka ia memiliki enam sikap dan sisi pandang:

الأوّل: مشهد التوحيد، وأن الله هو الذي قدّره وشاءه وخلقه، وما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن

Pertama: Pandangan (kaca mata) Tauhid. Bahwa Allahlah yang menakdirkan, menghendaki dan menciptakan kejadian tersebut. Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan  segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.

Penjelasan:

Seorang mukmin yang di dalam hatinya mengakar kuat keimanan terhadap Rabbnya akan memandang segala sesuatu dengan kaca mata iman dan tauhid, terlepas apapun yang dihadapi dan dialaminya. Hatinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, pastilah Allah yang menghendakinya terjadi dan Dialah yang menakdirkannya, baik peristiwa tersebut sebuah kebaikan ataupun keburukan. Namun setiap yang Allah takdirkan terjadi, pastilah ada hikmahnya, baik kita ketahui atau tidak.

Oleh karena itu, ketika mendapatkan musibah, Anda dizalimi orang lain atau difitnah misalnya, maka pandanglah peristiwa itu dengan kacamata iman, Allahlah yang menakdirkan musibah ini menimpa diri saya, Allahlah yang memilih saya untuk menjadi orang yang tertimpa musibah ini ,

Allah lah yang memilih saya menjadi korban fitnah ini. Radhiitu billahi Rabbaa, saya ridha Allah menjadi Rabbku dan Sang Pengaturku. Saya tidak akan memprotes takdir-Nya. Karena setiap hari seorang hamba berpeluang tertimpa musibah, maka pantaslah prinsip hidup yang seperti ini dalam Islam disyari’atkan untuk diwujudkan dalam ucapan dzikir pagi dan sore, bahkan disyari’atkan untuk diucapkan 3 kali,

رضيت بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد صلى الله عليه و سلم نبيا

“Aku rela Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku dan Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiku” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi).

Dengan demikian, setiap kali seorang hamba tertimpa musibah, ia menghadapinya dengan lapang dada dan menggantungkan harapan hatinya semata-mata kepada Sang Pengaturnya agar ia  mendapatkan jalan keluar dan mampu bersabar dalam menghadapinya dengan mengharapkan pahala dari-Nya.

Tips 2

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah melanjutkan

الثاني: مشهد العدل، وأنه ماض فيه حكمه، عدل فيه قضاؤه

Kedua: Kacamata keadilan. Bahwa dalam kejadian tersebut berlaku hukum-Nya dan adil ketentuan takdir-Nya.

Penjelasan

Setiap peristiwa yang ditakdirkan terjadi pada diri seorang hamba pastilah Allah selalu adil dan tidak pernah zalim kepadanya, karena Allah menentukan takdir bagi seorang hamba selalu sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِᄉ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya” (Fushshilat:46).

Bukankah setiap musibah yang ditakdirkan menimpa kita karena akibat dosa kita?

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (Asy-Syuuraa: 30).

Tips 3

Kemudian Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

الثالث: مشهد الرحمة،وأن رحمته في هذا المقدور غالبة لغضبه وانتقامه، ورحمته حشوه

Ketiga: Kacamata kasih sayang. Bahwa rahmat-Nya dalam peristiwa pahit tersebut mengalahkan kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras, serta rahmat-Nya memenuhinya.

Penjelasan:

Tidaklah Allah menakdirkan atas diri seorang mukmin sebuah peristiwa yang pahit, kecuali didasari kasih sayang-Nya kepada hamba tersebut. Dan kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Al-A’raaf:156).

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman,

إن رحمتي سبقت غضبي

Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim) .

 Tips 4

Selanjutnya, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur

الرابع: مشهد الحكمة، وأن حكمته سبحانه اقتضت ذلك، لم يقدّره سدى ولا قضاه عبثا

Keempat: Kacamata hikmah. Hikmah-Nya Subhanahu menuntut menakdirkan kejadian itu, tidaklah Dia menakdirkan begitu saja tanpa tujuan dan tidaklah pula Dia memutuskan suatu ketentuan takdir dengan tanpa hikmah.

Penjelasan:

Hikmah pentakdiran pastilah ada. Namun hikmah tersebut terkadang kita tahu, namun terkadang pula kita tidak tahu. Namun, ketidaktahuan kita terhadap suatu hikmah dari kejadian tertentu , tidaklah menghalangi kita berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Bahwa dengan hikmah Allah, Allah memutuskan suatu takdir. Jadi, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Maha Bijaksana dalam menetapkan takdir-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminuun: 115).

Allah Ta’ala juga berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al-Qiyaamah: 36).

Tips 5

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur:

الخامس: مشهد الحمد، وأن له سبحانه الحمد التام على ذلك من جميع وجوهه

Kelima: Kacamata pujian. Bahwa Dia Subhanahu terpuji dengan pujian sempurna atas penakdiran kejadian tersebut, dari segala sisi.

Penjelasan:

Allah terpuji dari segala sisi, terpuji dzat, nama, sifat maupun perbuatan-Nya, termasuk terpuji saat menakdirkan suatu takdir yang pahit, karena semua itu berdasarkan ilmu dan tuntutan hikmah-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Do’a mereka di dalamnya ialah subhanakallahumma dan salam penghormatan mereka ialah salam. Dan penutup doa mereka ialah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.” (Yuunus: 10).

Tips 6

Terakhir, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah Menjelaskan

السادس: مشهد العبوديّة، وأنه عبد محض من كل وجه تجري عليه أحكام سيّده وأقضيته بحكم كونه ملكه وعبده، فيصرفه تحت أحكامه القدريّة كما يصرفه تحت أحكامه الدينيّة, فهو محل لجريان هذه الأحكام عليه

Keenam: Kacamata peribadatan. Bahwa orang yang menjalani takdir yang buruk itu adalah sekedar hamba semata dari segala sisi, maka berlaku atasnya hukum-hukum Sang Pemiliknya, dan berlaku pula takdir-Nya atasnya sebagai milik dan hamba-Nya, maka Dia mengaturnya di bawah hukum takdir-Nya sebagaimana mengaturnya pula di bawah hukum Syar’i-Nya. Jadi, orang tersebut merupakan hamba yang berlaku atasnya hukum-hukum ini semuanya.

Penjelasan:

Sebagai seorang mukmin yang meyakini bahwa ia hanyalah milik Allah dan hamba-Nya, maka ia sadar dan mengakui kepemilikan Allah atas dirinya sehingga Dia berhak mengaturnya dengan bentuk pengaturan bagaimanapun juga, semua terserah Dia, Sang Pemilik alam semesta, maka ia ridha dengan pengaturan Rabbnya tersebut dan benar-benar menghamba kepada-Nya saja.

Seorang mukmin juga sadar bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, sebagai seorang hamba, ia tetap tertuntut untuk mempersembahkan peribadatan dan penghambaan kepada Sang Pemiliknya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam keadaan senang dan lapang, ada tuntutan peribadatan atasnya, maka begitu juga dalam keadaan susah dan tertimpa musibah, ada tuntutan peribadatan atasnya pula. Ia adalah hamba Allah, baik dalam keadaan sedih maupun senang.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (Maryam: 93).

Allah Ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al-Furqaan: 63).

Semoga bermanfa’at.

Antara Al-Quran Dan Smartphone

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

  Anda diajak untuk menyelami fenomena penggunaan smartphone yang dewasa ini sangat merebak di Nusantara. Negeri yang penduduknya mayoritas muslimin ini sudah seharusnya menyikapi segala macam bentuk perkembangan teknologi dengan dasar Islam, satu-satunya agama yang benar. Sehingga ketika sebuah produk teknologi baru berpeluang untuk digunakan dalam perkara keburukan dan kemaksiatan ataupun kesia-siaan yang melalaikan, maka seorang muslim bisa menahan dirinya agar tidak terjerumus ke dalamnya, bahkan lebih dari itu, ia bisa memperingatkan saudaranya, agar berhati-hati darinya.

Termasuk dalam hal ini adalah seorang muslim tertuntut untuk bijak dalam menggunakan smartphone, jangan sampai melalaikannya dari membaca dan mempelajari kalamullah serta mengamalkannya.

Nah, di antara cara agar terlepas dari bahaya itu adalah menghayati keutamaan-keutamaan Al-Qur`an yang banyak dan agung. Marilah kita simak penjelasannya.

Inilah Al-Qur`an, Wahai Pecinta Kalamullah

Silahkan Anda bandingkan keutamaan-keutamaan Al-Qur`an berikut ini dengan keuntungan-keuntungan yang ditawarkan smartphone Anda ketika Anda menggunakannya. Maka akan Anda dapatkan perbedaan yang sangat jauh diantara keduanya. Sehingga, pantaskah perhatian kita terhadapsmartphone lebih besar daripada perhatian kita terhadap Al-Qur`anul Karim?

Berikut penjelasan keutamaan-keutamaan Al-Qur`anul Karim

1. Al-Qur`anul Karim adalah paling utama!

Allah Ta’ala berfirman :

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ

(193) “Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)”,

عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

(194) “Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”,

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

(195) Dengan bahasa Arab yang jelas” (Asy-Syu’araa`: 195).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan beberapa ayat Al-Qur`an di atas: Bahasa Arab itu adalah bahasa yang paling utama, beliau (Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam) diutus dengan bahasa bangsa yang dihadapinya (ketika itu), beliau langsung mendakwahi mereka dengan bahasa yang jelas dan terang tersebut.

Perhatikanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang agung di dalam Kitab yang mulia ini karena sesungguhnya Al-Qur`an adalah Kitabullah yang paling utama, dibawa turun oleh malaikat  yang paling utama, diturunkan kepada makhluk yang paling utama, masuk ke dalam bagian tubuh  yang paling utama, yaitu hatinya, disampaikan kepada umat yang paling utama, yang dilahirkan untuk manusia, dengan bahasa yang paling utama, paling fasih lagi paling kaya, yaitu bahasa Arab yang jelas(Tafsir Syaikh As-Sa’di, hal. 699). Dengan demikian Al-Qur`anul Karim adalah paling utama, yang wajib kita dahulukan dari ucapan seluruh makhluk.

2. Ancaman bagi orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an, akan dikunci hatinya

Firman Allah Ta’ala :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?” (Muhammad:24).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Allah Ta’ala berfirman memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarang berpaling darinya dengan berfirman, {أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها}, yaitu bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya(Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid. 4 hal. 459).

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka(Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 23).

3. Al-Qur`anul Karim lebih baik dari seluruh perhiasan dunia

Firman Allah Ta’ala :

الرَّحْمَٰنُ

(1) (Tuhan) Yang Maha Pemurah,

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

(2) Yang telah mengajarkan Al-Qur`an.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, Surat yang mulia dan agung ini dibuka dengan penyebutan nama Allah “Ar-Rahman” yang menunjukkan kepada luasnya rahmat-Nya keumuman cakupan ihsan-Nya, dan banyaknya kebaikan-Nya, serta luasnya karunia-Nya. Kemudian Allah menyebutkan sesuatu yang menunjukkan rahmat-Nya dan pengaruhnya yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya berupa kenikmatan diniyyah (agama) maupun dunyawiyyah [dan kenikmatan akhirat, lalu setiap kali menyebutkan suatu jenis dan macam dari nikmat-Nya, Allah ingatkan manusia dan jin untuk bersyukur kepada-Nya, sembari berfirman {فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ }(maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?)

Selanjutnya Allah menyebutkan bahwa Dia {عَلَّمَ الْقُرْآنَ}, yaitu mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya lafadz-lafadz Al-Qur`an dan makna-maknanya serta memudahkan bagi hamba-hamba-Nya. Ini adalah anugerah dan rahmat terbesar yang Allah rahmati hamba-hamba-Nya dengannya, yang mana Dia turunkan kepada mereka Al-Qur`an dalam bahasa Arab dengan lafadz terindah dan makna terjelas, mengandung setiap kebaikan dan melarang dari setiap keburukan(Tafsir Syaikh As-Sa’di, hal.985).

Perhatikanlah! Dalam Surat ini, ketika Allah menyebutkan berbagai macam kenikmatan, baik kenikmatan agama, dunia maupun akhirat, Allah dahulukan penyebutan kenikmatan agama berupa pengajaran Al-Qur`an, hal ini sangat layak sekali karena memang pengajaran Al-Qur`an adalah sebuah kenikmatan yang terbesar melebihi seluruh kenikmatan-kenikmatan duniawi.

Lebih tegas lagi ,Allah berfirman tentang kedudukan nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba berupa faham Al-Qur`an dan mampu mengamalkannya,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus: 58).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, Oleh karena itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk bergembira dengan kenikmatan itu (Al-Qur`an). Dia berfirman {‏{‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ‏ yang dimaksud (dengan karunia Allah disini) adalah Al-Qur`an yang ia merupakan kenikmatan dan anugerah terbesar serta karunia yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Sedangkan  rahmat-Nya adalah agama Islam, iman, beribadah kepada Allah, mencintai, dan mengenal-Nya.

{‏فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏} (Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan) maksudnya (apa yang mereka kumpulkan) berupa perhiasan dunia dan kelezatannya. Maka kenikmatan agama Islam yang berhubungan erat dengan kebahagiaan dunia akhirat tidaklah bisa ditandingi dengan kenikmatan dunia dan seluruh isinya yang sebentar lagi akan sirna dan hilang(Tafsir Syaikh As-Sa’di,hal. 411).

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya tentang kisah Umar radhiallahu ‘anhu : Ketika datang harta pajak bumi yang ditarik dari orang kafir (kharaj) dari daerah Irak di hadapan Umar radhiallahu ‘anhu, keluarlah Umar bersama dengan budak yang dimerdekakan, pengiring beliau. Mulailah umar menghitung unta pembawa pajak tersebut, ternyata didapatkan jumlahnya kali ini lebih banyak, kemudian Umar mengucapkan, “Alhamdulillah Ta’ala”. Pengiringnya pun menimpali: “Ini -demi Allah- adalah termasuk karunia Allah dan rahmat-Nya”, lalu Umar pun berkata, ”Engkau keliru, bukan ini hakekitnya karunia Allah dan rahmat-Nya (yang terbesar), adapun (karunia Allah dan rahmat-Nya yang terbesar) adalah yang disebutkan oleh Allah Ta’ala {قل بفضل الله وبرحمته} sampai akhir Ayat. Sedangkan (harta pajak) ini adalah termasuk perbendaharaan dunia yang mereka kumpulkan (seperti yang disebutkan dalam Ayat)” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid.3 hal.82).

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa sesorang yang membaca Al-Qur`an, memahami dan mengamalkan kandungannya serta mendakwahkannya hakikatnya lebih baik dari dunia dan isinya. Maka barangsiapa yang mengutamakan dunia, dan hanya memberikan perhatian yang sedikit terhadap Al-Qur`an maka sesunnguhnya telah menyelisihi tuntutan Ayat di atas dan merugi dengan kerugian yang besar.

4. Orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, dijamin keluar dari kegelapan kepada cahaya

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Ibrahim:1).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya,Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk menyampaikan manfa’at kepada makhluk,mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan,kekufuran,akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu,iman dan akhlak yang baik.

Firman Allah :{ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ } ,yang artinya: “dengan izin Tuhan mereka”,maksudnya: tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah,melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah,maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur`an, dengan berfirman {إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ}, yang artinya “(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”, maksudnya yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan {العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).

Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu, sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia dan memperbanyaknya sehingga sampai mengutamakannya melebihi Al-Qur`an. Dari sini nampak sekali kerugian yang sangat besar ada di hadapan orang yang terlena dengan layar sentuhnya sementara jarang menyentuh mushafnya (mushaf Al-Qur`an).

Walaupun di dalam praktiknya, semua bentuk pelaksanaan ajaran agama Islam disesuaikan dengan kemampuan, bertakwalah semaksimal kemampuan kalian! Allah Maha Mengetahui siapa diantara kita yang telah bersunguh-sunguh bertakwa kepada Allah Ta’ala!

Demikianlah, sebagian saja dari keutamaan-keutamaan Al-Qur`an yang bisa kami sampaikan, semoga nasehat ini bermanfa’at besar bagi Penulis pribadi dan keluarga, serta bagi Anda semua. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk Ahli Al-Qur`an, Amiin.